Kuliah Bersama Ade Darmawan: Menjadi Seniman

 

“Menurut lo seniman yang baik itu yang kayak apa?”

Ade Darmawan membuka sesi kuliahnya dengan pertanyaan di atas yang bikin senyum-senyum seluruh peserta diskusi yang pada hari Rabu, 1 Maret 2017 itu hadir di ruang rapat, Hall A1, Gudang Sarinah. Satu-persatu peserta pun mulai menjabarkan kriteria-kriteria “seniman yang baik” menurut definisinya masing-masing, yang di —

Kuliah bersama Cecil Mariani: Konstruksi Mitos dalam Desain

Membincangkan diorama kadang kala tak bisa lepas pula dari kehadiran kisah-kisah di dalamnya. Sebagian besar kisah ternarasikan secara gamblang, namun sisa-sisanya kadang kala hanya menjadi kisah-kisah tak terdengar dari figur-figur bisu. Seringkali pula, kisah-kisah, baik yang ternarasikan secara gamblang maupun tidak, kemudian menjadi bagian dari mitos yang bergulir di antara bisik-bisik warga hingga tertanam menjadi —

Kuliah bersama Mahardika Yudha: Mengenal Arsip

Saya ingat betul, hari itu tiba-tiba Otty Widasari menyerahkan sebuah buku kecil yang tebal berwarna coklat. Katanya, itu untuk saya yang kebetulan suka menulis dengan rapi. Tentu saya girang bukan main, meski jujur kerapian menulis saya adalah hal yang sungguh bisa diperdebatkan. Jadilah buku hadiah Otty menjadi media pencatat yang secara rutin merekam pula aktivitas —

Merombak Warisan, Menyetir Sejarah: Penyelewengan Diorama Museum Sejarah Monumen Nasional

Monas itu stempel kepribadian Sukarno. Ini kata Roosseno Soerjohadikoesoemo. Saat itu, 13 September 1962, Roosseno menyampaikan pidatonya sebagai promotor penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu teknik dari Institut Teknologi Bandung kepada Presiden Sukarno. Peristiwa itu hanya selang setahun lebih dari pemancangan tiang pertama Monumen Nasional (Monas) oleh Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1961.—

Persepsi Dimensi Bolak Balik

Sejak awal, saya merasa sangat terbatasi saat melihat diorama. Bagaimana tidak, melalui hadirnya ‘batas’ besi, kaca dan pencahayaan, saya tidak benar-benar merdeka untuk memahami narasi saat itu dan saya merasa kemerdekaan itu justru hanya ada di dalam diorama. Keresahan itu mulai saya rasakan ketika lingkup lihat maupun gerak saya terbatasi oleh ruang. Bagaimanapun, kita selalu —

Gegar Balik Narasi

Kejutan dari Visual Pertempuran

Sebuah ledakan terlihat membumbung nyaris di ujung horizon. Awan berwarna ungu mengepul ke angkasa selagi di bawahnya sebuah panser menodong ke kejauhan ke arah musuh. Di depan panser, orang-orang berserakan bersama puing-puing. Mereka tengah tiarap mengintai musuh selagi beberapa lainnya terluka dan tewas. Di pojokan kanan terlihat seseorang berpakaian putih tengah —