Fiksi Sempurna Orang Ketiga yang Maha Tahu

Orang Ketiga yang Maha Tahu

Dia adalah orang ketiga yang maha tahu, yang menyampaikan pemikiran tokoh-tokoh dalam sebuah kisah. Kebenaran dalam kisah yang ia tuturkan adalah sebuah keyakinan yang sesuai dengan pandangannya terhadap permasalahan hidup dan kehidupan. Kebenaran tersebut tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, atau dapat saja terjadi di dunia nyata, merupakan kebenaran dalam tuturnya. Dia merangkai prosa-prosa, bukan puisi. Karena prosa adalah sebuah keterusterangan yang bisa menggambarkan fakta dan ide-idenya. Karena prosa bisa dicerna dengan akal dan mengandung kebenaran yang bisa mendramatisasi hubungan antar manusia. Karena prosa memiliki variasi ritme yang lebih besar dari puisi, serta memiliki bahasa yang lebih sesuai dengan makna kata itu sendiri.

Dalam kisah yang ia tuturkan, ada drama. Diwakilkan dengan dimensi gerak yang menggambarkan realita kehidupan nyata. Ada tingkah polah manusia melalui peran-perannya. Ada dialog tentu saja, yang dipungutnya dari peristiwa-peristiwa sejak abad lalu, yang telah terancang secara kultural di kepala pembaca. Yang ia butuhkan hanya kualitas komunikasi, kualitas situasi, dan kualitas aksi, yang harus secara kuat dan apik dapat disajikan utuh dan mendalam. Maka pembaca, tidaklah perlu percaya, cukup terlebih dulu terkesan. Karena pembaca selalu memuja sandi-sandi rahasia yang disisipkan dalam kisah-kisah.

Lalu, siapakah sebenarnya si ‘dia’ ini?

Bisa siapa saja. Dia bisa jadi seorang penulis sastra, konglomerat media, akademisi, warga biasa, ataupun negara. Semua bisa menjadi pengarang handal, setelah sebelumnya mampu menggalang kepercayaan sosial yang besar. Ia bisa melakukannya secara bertahap, seperti misalnya memindahkan pengalaman peran diri di masa lalu dan kemudian melakukan penekanan pada kewajiban mengingat sejarah, untuk menuju ke sebuah narasi demokrasi sosial. Atau bisa juga dengan cara yang radikal, seperti melakukan perubahan keras lalu kemudian mengisahkan kekuatan jasa tokoh-tokoh yang membangun gedung kapitalisme, dengan senjata militer yang ditodongkan kepada pembaca. Dia bisa berkisah melalui pintu mana saja: politik, budaya, ekonomi , bahkan mitologi.

Fiksi

Dalam sebuah karya sastra fiksi, ada sudut pandang. Itu merupakan salah satu unsur intrinsik dari si karya tersebut. Sudut pandang adalah cara si pengarang menyajikan tokohnya, tindakannya, latarnya, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Biasanya cerita dinarasikan melalui sudut pandang orang pertama, atau orang ketiga.

Jika sebuah cerita disampaikan oleh seorang tokoh dalam cerita, maka cerita disampaikan oleh ‘aku’. Jika tokoh tersebut adalah tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah milik orang pertama protagonis. Namun jika tokoh tersebut bukan tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah milik orang pertama pengamat (observer).

Lain halnya Jika cerita disampaikan bukan oleh tokoh yang ada dalam cerita, melainkan oleh penulis yang berada di luar cerita, tokoh dalam cerita disebut sebagai ‘dia’. Jika narator tidak memiliki dampak apa-apa, hanya sebagai pengamat yang tak terlibat seperti halnya pembaca, maka sudut pandang cerita adalah milik narator orang ketiga dramatik (third person dramatic narrator). Jika narator menyampaikan pemikiran si tokoh, maka sudut pandang cerita adalah orang ketiga yang maha tahu (third person omniscient), atau narator yang tahu segalanya (all-knowing narrator).

Orang ketiga yang maha tahu! Ini adalah sebuah peran tersendiri di luar kisah yang dibuatnya. Sebuah peran yang luar biasa. Bagaimana tidak, dia bisa mengubah segalanya menjadi sebuah kenyataan baru, yang walau fiktif, yang walau pembaca tak perlu percaya —cukup terlebih dahulu terkesan— namun bisa membangun sebuah monumen ideologis di kepala pembaca. Dia demikian istimewa karena dia bukan orang pertama, ataupun orang kedua. Dia adalah orang ketiga yang tak nampak. Sebuah peran yang rendah hati karena menghilangkan keberadaan diri dalam kisahnya sendiri. Serendahhati tradisi masyarakat pribumi di hadapan tuan tanah penjajahnya yang membungkuk dengan ikhlas. Sebuah tradisi yang terwarisi hingga sekarang, yang menyebut nama dirinya (sebagai orang ketiga) sambil menghilangkan ke’aku’annya.

Melalui perannya yang transparan ini dia membangunkan jenazah-jenazah dari masa lalu, menghidupkannya kembali dengan peran-peran baru yang heroik sebagai tokoh-tokoh gemilang. Tokoh-tokoh yang menyelamatkan nasib orang banyak setelah menggalang perjuangan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Menjelmanya Si Orang Pertama

Monumen sudah terbangun di kepala pembaca melalui proses yang artikulatif. Si ‘dia’ sudah mengglorifikasikan ideologinya. Secara politis, persepsi komunal di kepala pembaca diubah menjadi ikon. Kemudian menjelmalah dirinya, di dalam kisah, sebagai wujud yang nyata. Pada suatu tahap kesadaran tertentu, akhirnya ‘dia’ moksa menjadi ‘aku’.

Sang Pencerita, tidak bisa tidak, harus memunculkan dirinya. Biar bagaimanapun, ini adalah kisahnya. Perannya tidak lagi menjadi transparan. Dia merasa kisahnya sudah bernas. Memiliki struktur babak, adegan, dialog, prolog, hingga epilog. Ada tokoh-tokoh yang penokohannya jelas dan lengkap: utama, serta pelengkap. Si Protagonis menuntut kehadiran si Antagonis. Terbangunlah dramatisasi. Plot tersusun dengan berkecukupan: ada peristiwanya, ada konfliknya, semua menuju pada klimaksnya. Kaidah plot memiliki unsur kausalitas yang terpercaya sesuai dengan logika kisah. Tak lupa ada ketegangan dan kejutan yang menyatupadu. Dia melibatkan ahli sejarah untuk membangun latar waktu, latar tempat, juga latar sosial. Ini adalah sebuah kenyataan. Dan ini adalah kisahnya, karena dia berasal dari lokasi di masa lalu tersebut sebagai pelaku. Ini sebuah biografi, atau tepatnya autobiografi.

Autobiografi Dalam Diorama

Diorama adalah sejarah yang dimapankan oleh negara. Penciptanya adalah sang penguasa. Ganti kekuasaan, ganti pulalah narasinya. Masyarakat mempelajarinya sebagai sejarah bangsa. Kebenarannya mapan, dilegalisasi atas nama negara. Siapa yang hendak berbantahan, berhadapan dengan hukum resmi negara. Seperti ilmu eksakta, sejarah jadi tertutup dari kemungkinan pemaknaan lebih lanjut. Namun kenyataan sejarah selalu berubah, menurut siapa yang menguasai wacana. Dalam satu masa, variabelnya hanya ada pelaku (kambing hitam) dan pahlawan. Masa berganti, ada variabel tambahan, yaitu kesaksian korban, dan di kemudian hari juga ada variabel rekonsiliasi, di mana korban bukan berasal dari satu ranah saja.

Wacana sejarah tanding berguliran, aksi aktivisme sejarah mencari penopang obyektif yang kuat melalui tutur wacana akademik dan ahli sejarah yang berseberangan. Bukti-bukti lain yang masih berserakan dikumpulkan, dari masa lalu, kemudian mereka saling berebut wacana. Yang memiliki hak bicara hanyalah negara, akademisi, militer, korban … masyarakat berdiam dalam suatu jarak, tak terlibat.

Lalu di mana ruang untuk sejarah alternatif, saat semua kisah sudah dimapankan sedemikian rupa? Apa yang terjadi dengan orang-orang sekecil semut dalam kerumunan pemuja Tuanku Imam Bonjol yang berdiri di ketinggian, berbaju putih diterpa pencahayaan lampu diorama yang dramatis di Museum Nasional? Ada di bab berapa buku sejarah Sekolah Dasar-kah orang-orang yang duduk bersimpuh sambil berbisik-gunjing saat Patih Gajah Mada mengacungkan tinggi kerisnya mengucap Sumpah Palapa? Para pekerja membangun Candi Borobudur yang didoakan oleh para biksu yang bijaksana? Barisan rakyat yang berjajar sepanjang kanan dan kiri Kiayi Haji Ahmad Dahlan? Kemana mereka dalam catatan sejarah yang kita baca hari ini?

Tampaknya mereka menyelinap sendiri dalam bisu melalui komponen-komponen perangkat keras teknologi. Melompat diam-diam ke relung-relung perangkat lunak yang membawa mereka ke awan, dan meluncur girang ke laman autobiografi para netizen yang menggunakan tongsisnya, meletakkan diri mereka menjadi latar depan sejarah hari ini. Mungkinkah para tokoh tak bernama itu sedang asik bergabung dengan generasi milennium merayakan pergaulan simulasi di media sosial?

Lalu … Hei, Sang Seniman pembuat diorama! Mengapa ada piring dan gelas yang diletakkan di kursi (bukannya di meja) sudut ruang pertemuan intergrasi Timor-Timur dengan Indonesia pada tanggal 31 Mei 1976 di Dili itu? Apakah kursi nyeleneh itu perlu disampaikan kepada pirsawan yang ingin membaca sejarah? Lalu, tiga pasang kaki milik siapakah itu yang tergeletak di pinggir ruang rapat besar persetujuan untuk menyelenggarakan Konpersensi Meja Bundar yang kelak akan mengakui kedaulatan Indonesia? Apakah kaki-kaki tak bertuan itu tidak memiliki kisah biografis?

Siapa yang Percaya Pada Google?

Tak ada buku sejarah yang bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Sementara para generasi internet yang selalu merasa sangat berjarak dengan sejarah, memandang bahwa semua visual yang terpampang di hadapan mata memiliki konsekuensi naratifnya masing-masing, sekalipun itu didapat melalui pembesaran yang mereka lakukan dengan menggunakan bantuan teknologi. Dan obyek-obyek liar itu juga resmi merupakan bagian dari media negara yang dipajang di monumen resmi negara dan resmi sebagai sejarah.

Kalau sudah tidak menemukan jawaban dari buku, jalan keluarnya adalah googling!

Siapa yang percaya pada kerja pengarsipan Google? Milyaran orang di dunia! Di sini Google hanya salah satu contoh saja, karena ada banyak jaringan penyedia layanan arsip lainnya tersebar luas di internet. Namun saat arsip tersebut dipakai sebagai referensi dalam sebuah narasi resmi, dunia akademik tentu mencemoohnya. Tidak sahih arsip tersebut dirujuk. Jadi siapa yang percaya pada arsip Google? Saya!

Saya adalah pengarang tulisan ini. Nyaris sepenuhnya saya menggunakan sebaran rujukan dari wadah penghidang (server) yang berada di awan (clouds). Sebaran rujukan yang tidak berebut wacana sejarah. Yang sepenuhnya fiksi. Fiksi orang ketiga yang maha tahu, yang kemudian menjelma jadi orang pertama. Saya.

Fiksi saya tidak memperdebatkan kebenaran. Tidak menuntut bukti-bukti masa lalu yang menjunjung tinggi obyektivitas akademik. Sebutlah saya pemalas, sebutlah saya bukan pekerja keras, dan sebutlah saya tidak intelek. Janganlah percaya pada rujukan saya. Dengan rendah hati saya menuturkan kisah bukan sejarah ini, tolaklah. Karena ini cuma fiksi.

Karena Sejarah Adalah Fiksi

Tanpa menafikan kerja keras-kreatif Edhi Sunarso, Seniman yang membuat puluhan diorama di Indonesia, termasuk diorama di Monas, bagi saya diorama adalah fiksi. Katakanlah fiksi sejarah. Diorama yang ada di Monas diciptakan oleh dua Presiden Indonesia, Sukarno dan Suharto. Dua presiden yang memerintah sangat lama di negeri ini, kumpulan waktu panjang yang cukup membuat sebuah narasi fiksi menjadi mitos mapan di kepala rakyat Indonesia. Seniman yang menjadi tangan kedua kekuasaan untuk memapankan sejarah melalui medium tiga dimensi ini pun melebur dalam konstruksi reka kisah sejarah.

Sejarah adalah apa yang tercatat. Ada yang dimunculkan, ada yang dihilangkan. Untuk mendukung pernyataan saya tersebut, saya mengutip tulisan saya sendiri yang bicara mirip dengan persoalan arsip sejarah yang sedang dibahas di sini: “…peristiwa yang terjadi di masa lampau itu hanya milik sang waktu. Waktu berganti, maka peristiwa tersebut pun lenyap. Orang-orang yang menyayangkan berlalunya waktulah, atau, anggaplah sadar dokumentasi, yang mendokumentasikan peristiwa, membekukannya dalam sebuah medium […] kita tentu sadar bahwa kebutuhan pendokumentasian pasti didasari oleh b eberapa hal yang kemudian menjadi konstruksi dasar dokumen. Sebuah konstruksi dokumen pasti memiliki kepentingan yang bisa kita baca sebagai polemik kekuasaan.”[1] Maka sejarah adalah sebuah konstruksi arsip, seperti juga fiksi, yang tak pernah lepas dari kenyataan hidup di sekitarnya.

Sedangkan bagi generasi baru, sejarah adalah sesuatu yang tidak tergenggam. Sejarah adalah gambar-gambar, yang memberikan impresi. Dan publik memiliki peluangnya sendiri untuk mengintepretasikan, menarasikan dan menciptakan sejarah menurut versinya sendiri, karena autobiografi orang hebat sudah kalah hebat dengan autobiografi jutaan generasi yang terpampang di halaman depan media sosial mereka. Yang dipercantik, diperunik, dan sungguh interaktif sejalan dengan detik waktu. Autobiografi kini bukan seperti kenyataan keseharian mereka yang sesungguhnya, karena sejarah adalah fiksi.

Misteri tiga Pasang Kaki

Kali ini bukan saya, tapi ‘aku’. Seingatku, aku, dan dua orang kawan yang tak kuingat namanya, hadir dalam sebuah rapat besar. Dan seingatku itu adalah rapat yang membicarakan pengakuan kedaulatan Indonesia, dan semua setuju untuk mengadakan sebuah konperensi mengelilingi meja yang berbentuk bundar. Aku dan si dua kawan hadir di sana, dan seingatku kami memiliki peran dalam kisah sejarah ini. Tentu saja aku juga bagian dari sejarah. Tapi sungguh aku tidak ingat mengapa aku dan kedua temanku dihilangkan dari pencatatan sejarah. Sebelumnya, dalam ruang rapat besar itu kami bahkan dihilangkan dengan paksa.

Hari ini sekelompok anak muda menemukan tiga pasang kaki kami di sudut ruang museum. Mereka terperanjat. Lalu mereka mencari tahu identitasku dan kedua temanku. Sungguh mereka kesulitan menemukan bukti-bukti sejarah lapuk setelah 67 tahun lamanya terlupakan.

Tidak ada dalam lemari arsip negara. Mungkin negara justru menyembunyikan keberadaan kami. Lalu mereka berlari menuju rumah-rumah arsip para aktivis sejarah tandingan. Namun merekapun tidak bisa membantu memberikan dokumen karena tertumpuk di kardus-kardus setinggi langit-langit, dan sulit dibongkar karena sistem pendokumentasian yang kacau sehabis pindahan kantor. Sekumpulan anak muda ini bergunjing, menyesalkan, mengapa orang-orang itu menyimpan dokumen mereka di kardus-kardus, bukannya di awan, hingga seharusnya aku dan kedua temanku bisa bergabung bersama tokoh-tokoh tak bernama yang merayakan kesejamanan, yang tidak memutarbalik dan melawan dengan keras sebuah sistim nilai yang berkuasa melalui dokumen awal yang digunakannya, melainkan menggubahnya menjadi kenyataan fiktif, lewat pameran.

Lenteng Agung, 12 November, 2016


Catatan Kaki

1. Widasari, Otty, (2013). ARKIPEL Experimental and Documentary Film Festival Catalogue: Challenging the History Construction. Jakarta: Forum Lenteng.


Artikel ini adalah esai kuratorial untuk pameran DIORAMA – Karena Sejarah Adalah Fiksi di Gudang Sarinah Ekosistem, 17-27 November, 2016.