Gegar Balik Narasi

Kejutan dari Visual Pertempuran

Sebuah ledakan terlihat membumbung nyaris di ujung horizon. Awan berwarna ungu mengepul ke angkasa selagi di bawahnya sebuah panser menodong ke kejauhan ke arah musuh. Di depan panser, orang-orang berserakan bersama puing-puing. Mereka tengah tiarap mengintai musuh selagi beberapa lainnya terluka dan tewas. Di pojokan kanan terlihat seseorang berpakaian putih tengah berada di antara orang-orang yang terluka. Bangunan terlihat compang-camping dan tak lagi utuh. Barangkali akibat gempuran kedua belah pihak. Ini adalah sekilas kenampakan yang saya lihat dalam sebuah diorama bertajuk Pertempuran Surabaya.

Diorama yang terletak pada sisi 2 museum nasional di Monumen Nasional ini berusaha mengisahkan tentang peristiwa Pertempuran Surabaya. Dalam teks pendamping diorama, dikatakan bahwa pasukan Sekutu bersama opsir NICA mendarat di Surabaya pada bulan Oktober 1945. Beberapa insiden muncul dan terjadi eskalasi hingga ke tahap pertempuran. Dikatakan pula bahwa setelah Brigjen Mallaby terbunuh, ultimatum dikeluarkan kepada rakyat Surabaya untuk segera menyerahkan senjata mereka. Namun menurut tuturan teks pendamping diorama, ultimatum ini tak dihiraukan oleh rakyat Surabaya sehingga kemudian pecah pertempuran hebat antara Sekutu dan rakyat Surabaya pada 10 November 1945. Oleh teks tersebut dikatakan pula bahwa hari dimana pertempuran di Surabaya diabadikan menjadi Hari Pahlawan mengingat banyaknya pejuang Indonesia yang gugur kala itu.

Kisah mengenai pertempuran yang identik digambarkan sebagai Peristiwa 10 November ini hadir dalam diorama dengan penampilan yang cukup berbeda dari sejarah yang kerap diceritakan. Setidaknya begitulah impresi yang saya tangkap selagi berdiri memandangi sang diorama dalam kotak kaca. Apa yang memori saya kumpulkan kala duduk di bangku Sekolah Dasar rasa-rasanya tidak cukup terefleksi dalam pemandangan yang saya lihat dalam diorama. Tidak ada rupa Brigadir Jenderal Mallaby atau Bung Tomo yang berapi-api membakar semangat pejuang di dalam diorama. Bahkan tak pula hadir peristiwa dirobeknya bendera musuh di Hotel Oranye atau Hotel Yamato. Peristiwa yang terjadi di tahun 1945 ini dimunculkan dengan cara yang sangat berbeda.

Setengah bertanya-tanya, saya mengamati visual Pertempuran Surabaya yang dihadirkan dalam diorama. Bukannya menangkap kesan keseluruhan pertempuran, malahan yang kemudian mencuri perhatian saya ialah goresan-goresan cat di dinding yang membentuk frasa. Guratan yang berbunyi “Merdeka atau Mati”, “Freedom Forever” hingga “RIS linggis” serta “Mandi darah” seolah menjadi visual dari pertempuran itu sendiri. Mereka menggaung begitu kuat sekali tangkap oleh pandang mata. Artikulasi yang terasa begitu nyata karena sang verba mengalami perubahan menjadi sebuah visual. Ia menjadi pernyataan yang tak didengar tetapi dilihat secara gamblang oleh mata.

Coret-coret yang ada di dinding tembok sepanjang medan perang ini memang tak banyak. Namun dalam kesedikitannya, pesan perlawanan terasa begitu nyata. Huruf-huruf yang ditulis dengan cat hitam lekat ini seolah menyerukan ketangguhan hati para pejuang untuk melawan penjajah. Bahkan melalui peletakannya, visual teks ini pun seolah berkisah tentang kejadian heroik kala pertempuran terjadi. Teks “mandi darah” contohnya. Ia diletakkan sedikit di atas dari visual seorang perempuan berbaju putih (mungkin perawat) yang tengah menolong seseorang yang terluka, pejuang barangkali. Lebih dekat pada adegan pertolongan perawat tersebut, nampak teks “RIS linggis” yang secara tak langsung menamakan musuh yang tengah di lawan. Hadirnya kata “NICA” yang disilang pun makin menegaskan situasi perang yang tengah berlangsung sekalipun musuh hanya sekedar nama dalam visual teks “RIS linggis”.

Kehadiran teks-teks perlawanan ini malahan memberikan informasi yang mendalam mengenai kejadian 10 November 1945. Barangkali ini adalah aspek sejarah yang sempat terlongkapi dalam cerita-cerita umumnya. Penggambaran sejarah yang nampak asing bagi saya ini seolah mewujudkan wajah lain dari narasi sejarah yang jarang diketahui khalayak kebanyakan. Potret situasi yang sebelumnya tak didapati terutama ketika kita hanya belajar Sejarah Indonesia ala kadarnya, kini tergambar dalam rupa yang (barangkali) lebih ragam. Wahana berpikir saya pun kedapatan informasi-informasi baru namun pada saat yang sama mengalami luapan pertanyaan akibat kaget. Keterkejutan ini tak ayal membuat bangunan pemahaman saya mengenai sejarah Pertempuran Surabaya pun terpecah-belah. Antara berusaha mengkritisi, memvalidasi sekaligus menjembatani muatan wawasan yang rasa-rasanya bercelah.

Spektator yang Gagap

Sekalipun bentuk diorama ialah visual tiga dimensi yang bisa dilihat dari berbagai macam sudut, namun rupanya ragam pandangan spektator terhadap diorama tak sekaya yang dikira. Kehadiran kaca betul-betul membatasi pengalaman saya dalam membaca diorama, belum lagi dengan mata yang memang serba terbatas (mata yang minus, plus dan kawan-kawannya). Sudut pandang saya sebagai spektator terbentur oleh kaca dan berhenti pada bentuk nyaris dua dimensi saja. Sekalipun sesungguhnya diorama adalah visual tiga dimensi, spektator malahan seperti sedang sekedar menonton televisi. Kami hanya bisa melihat dari arah tertentu saja tanpa mampu menelisik secara khusus setiap sudut diorama. Selalu ada detail dari diorama yang tertinggal dan tak terbaca. Maka tak heran jika informasi yang diterima pun menjadi serba sepotong dan belum tentu memuat keseluruhan bacaan yang dimaksud oleh diorama.

Keterbatasan dari kaca ini tak ubahnya dengan keterbatasan yang muncul akibat muatan pengetahuan yang masih minim. Wawasan mengenai sejarah Indonesia yang kurang mendalam serta informasi sejarah yang kurang menyeluruh menyebabkan spektator gagap membaca diorama. Konteks sejarah pun dicerna sepenggal demi sepenggal agar mampu berelasi pada narasi besarnya. Seolah menerima kucuran air dari langit yang tak kunjung usai juga karena jatuhnya setetes demi setetes.

Seperti halnya dalam diorama Pertempuran Surabaya. Ketimbang visual reruntuhan dan teks perlawanan, sejarah mengenai Pertempuran Surabaya biasanya lebih identik dengan perobekan bendera sekutu di Hotel Oranye atau Hotel Yamato yang memicu agresi disertai tewasnya Jenderal Mallaby. Selain itu, kebanyakan anak-anak yang pernah mengenyam pelajaran Sejarah di bangku Sekolah Dasar biasanya lebih teringat dengan ikon Bung Tomo yang tengah menyeru untuk membakar semangat revolusi para pejuang menggunakan sebuah radio lokal. Di kebanyakan buku Sejarah Sekolah dasar, memang foto tersebutlah yang sering dipampang sebagai visual Pertempuran 10 November 1945. Hal ini membuat peristiwa Pertempuran Surabaya seolah begitu identik dengan Bung Tomo. Sementara situasi yang penuh puing dan visual teks perlawanan rupanya malah jarang terpikirkan. Penegasan bahwa ternyata hadir petani-petani bercaping yang tak beralas kaki dan turut bergelimpang di jalanan kota Surabaya saat pertempuaran berlangsung pun terlongkapi. Barangkali malahan tak diduga. Selalu ada tokoh yang tampil terdepan dan memburamkan situasi lain di sekitarnya, termasuk tokoh-tokoh tak bernama dalam sejarah. Entah imajinasi yang memang mentok atau sistem pewarisan pengetahuan yang serba tersendat. Kita hanya kedapatan secuil dari limpahan yang semestinya begitu meruah.

Pertanyaan-pertayaan atas ketidaktahuan yang lalu muncul di benak barangkali terdengar sedikit bodoh, namun juga hampir-hampir bisa merefleksikan miskinnya imajinasi atas sejarah yang pernah terjadi. Sehingga ada narasi dalam visual diorama yang begitu sulit kami baca. Sebagai spektator, kami merasa gagap menangkap kisah dari figur-figur dalam diorama. Malahan ada rasa terusik yang muncul dari figur-figur dengan narasi yang belum terbaca ini. Seolah ada kisah yang masih menggantung, tersembunyi dan meminta untuk dibaca.

Pada tahap inilah kegagapan akan wajah sejarah terasa begitu mengganggu. Susunan narasi sejarah yang sebelumnya sudah ada di kepala malahan seperti minta untuk diobrak-abrik. Keterputusan pengetahuan menjadikan mata yang sudah terbatas menjadi semakin terbatas. Hambatan pun berkembang baik secara fisik hingga abstraksi wawasan. Sampai-sampai antara sistem dan unit sama-sama saling terjebak dalam ruang kosong dan hanya bisa bermain tebak-tebakan lantaran gagap.

Telepon Genggam Pintar dan Kameranya

Kaca yang hadir di antara spektator dan diorama menjadi pembatas yang menyeleksi pandangan dan imaji spektator tentang narasi diorama. Tak heran jika kemudian hadir semacam kebuntuan ketika mencerna narasi dalam visual diorama. Namun kesulitan mencerna visual rupanya tak sepenuhnya membuat spektator gagal menerima narasi dari sang diorama. Kaca yang tadinya adalah pembatas antara pengetahuan kita dan diorama ternyata bisa diubah menjadi celah. Melalui kemampuannya untuk memberi refleksi, kaca pun mampu memberi kesempatan bagi spektator untuk membelah-belah narasi diorama.

Perlakuan ini bukannya dengan pertimbangan usil dan setengah ‘putus asa’ semata. Perlakuan ini justru adalah cara untuk membaca narasi yang tak terbaca oleh mata yang minim pencahayaan pengetahuan. Karena pengetahuan yang dimiliki terbatas, maka apa yang bisa dilakukan adalah membelah-belah narasi yang terbaca karena tidak keseluruhannya terbaca. Untuk melakukan pekerjaan ini, sekedar lensa mata alamiah manusia saja tak cukup. Diperlukan kehadiran suatu mata yang mampu membongkar dan menyusup ke celah dan sela yang gagal dimasuki oleh mata manusia. Di sinilah bantuan mata kedua dibutuhkan untuk membaca sosok-sosok kecil dalam diorama agar bisa diperbesar dan selanjutnya bercerita dalam narasinya sendiri.

Salah satu jenis medium penglihatan yang paling dekat dan familiar dengan kita saat ini ialah kamera. Instrumen optik ini pada awal kemunculannya terasa eksklusif dan hanya bisa digunakan orang tertentu. Namun kini ia begitu mudah diakses bahkan dimiliki oleh orang-orang. Ia telah menjadi benda massal milik warga yang begitu lekat dengan keseharian. Nyaris setiap orang saat ini telah memiliki kamera, bahkan kanak-kanak. Terkadang, seorang bocah usia 4 tahun pun sudah fasih mengoperasikan kamera dan merekam suatu imaji darinya. Memainkannya seolah menjadi bagian yang wajar dalam rekam jejak masa kecilnya.

Kondisi ini berlaku karena perkembangan inovasi teknologi kamera yang menempel dengan teknologi telepon genggam. Tidak jelas sejak kapan perkawinan itu terjadi, namun produk komunikasi massal yang muncul di tahun 1973 ini kini begitu lekat dengan kamera. Kini kamera menjadi salah satu fitur yang musti ada pada sebuah telepon genggam. Terutama ketika era digital telah memberi kemudahan bagi manusia untuk menjelajah dunia sekaligus ‘menambah’ khasanah hidup lewat internet pada telepon genggam. Imaji yang terekam ataupun tak terekam mata kemudian dihadirkan kembali lewat kamera telepon genggam dan disebarkan pada khalayak lewat fitur internet.

Integrasi fungsi ini semakin mempermudah hidup manusia seiring dengan penemuan dan perkembangan teknologi Smartphone atau telepon pintar.Teknologi digital hari ini telah memasuki era serba telepon pintar dan layar sentuh yang membuat fisik manusia bisa secara langsung dan setiap saat bersentuhan dengan dunia digital. Kondisi ini memungkinakan teknologi untuk menjadi begitu lebur dengan keseharian manusia. Kita mulai menyentuh tak hanya secara langsung pada objek sentuhan kita namun melalui media. Kita mulai melihat tak hanya melalui mata kita tapi juga melalui mata kedua. Sehingga mata kamera telepon genggam pun bisa menjadi salah satu teknologi penglihatan yang menjadikan ‘kecacatan’ mata alamiah manusia menjadi sempurna. Tanpa sadar ia pun mampu menubuh menjadi mata kedua untuk menciptakan dan melihat imaji yang sulit dilihat atau diperlihatkan oleh mata alamiah manusia.

Semisal gambar-gambar kecil yang tak terjangkau oleh mata. Dibutuhkan fitur zooming untuk bisa menangkap gambar-gambar kecil yang sulit dilihat mata secara langsung. Atau jika pencahayaan kurang, maka mode kamera telepon genggam bisa diubah-ubah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan. Fitur mode kamera ini bahkan mampu mendistorsi warna objek yang diperlihatkan oleh mata kamera. Memberikan suatu alternatif yang kadang hampir sepenuhnya berbeda dari realitas. Bahkan lewat sistem autofokus dan jenis lensanya, malahan sebuah kamera telepon genggam bisa menangkap pembiasan dan menyatukannya dengan visual realitas yang ada. Kemudian membuat suatu benda seolah-olah ada di tempat dimana ia sebenarnya tak ada. Visual semacam itu adalah jenis yang tak bisa secara langsung tertangkap oleh mata manusia. Oleh teknologi kamera, kekurangan tersebut ditambal dan bahkan dijadikan sebuah kesempatan bagi eksplorasi serta provokasi visual realitas. Sebuah perayaan atas harmonisasi kerja teknologi dan manusia.

Dalam konteks memotret diorama, ruang pameran yang temaram dan diorama yang tersimpan dalam kaca menjadikan proses membaca narasi diorama menjadi tak mudah. Di dalam ruang pameran yang begitu besar dan tertimpa aneka cahaya, kaca diorama sangat rawan pantulan cahaya. Sehingga hampir begitu sulit menangkap adegan dalam diorama tanpa adanya bayang-bayang lokasi masa kini ataupun tambahan lampu yang terpantul. Ketika siang hari, pengunjung ramai berduyun-duyun memotret diorama dan /atau selfie dirinya sendiri bersama diorama. Seolah mereka adalah bagian dari diorama tersebut. Kilat-kilat cahaya lampu kilap kamera pun turut menjadi ‘keributan’ yang membuat diorama sulit dibingkai ‘bersih’ dan menjadi arsip pribadi spektator yang utuh.

Malam tiba, lampu-lampu di dalam ruang pameran justru semakin lebih kuat menimpali cahaya dalam diorama. Bagi mata saya yang mengidap rabun jauh alias minus, kondisi ini sangat mengesalkan karena mengganggu proses melihat diorama secara dekat. Bagi mata kamera, lampu-lampu ini seolah menantang cahaya diorama. Ia mengalahkan pijar narasi yang berusaha dibawakan oleh diorama dan menjadi distraksi bagi proses mengarsip diorama. Lampu aula, cahaya dari mesin penjaja minuman hingga lampu kilap kamera terus menginterupsi narasi diorama tanpa ampun.

Teknologi kamera telepon genggam pada kondisi seperti ini rupanya memiliki andil pembacaan yang cukup mampu diandalkan. Yang perlu dilakukan hanyalah mengoptimalkan fitur-fitur dalam kamera telepon genggam agar mampu menangkap narasi dari diorama. Sehingga apa yang tadinya jauh dan sulit terbaca menjadi lebih dekat dan lebih mudah untuk dibaca. Pun dengan desain fisik kamera telepon genggam yang ringan, tipis dan mudah dibawa kemana-mana maka ia bisa menjadi begitu luwes untuk membaca diorama sekalipun dengan pengunjung yang kadang riuh berjubel.

Dalam hal ini, keleluasaan kita sebagai pemegang kamera terfasilitasi oleh keberadaan kamera. Apa yang butuh kita temukan dapat ditemukan oleh mata kamera. Apa yang butuh kita perlihatkan dapat diperlihatkan melalui bantuan mata kamera. Kepala, mata dan tangan pada saat yang bersamaan mensikronisasi apa yang butuh dilihat dan diperlihatkan melalui kemampuan mata kamera. Sehingga ia menjadi perpanjangan tangan (dan mata) atas kepentingan kita sebagai manusia sekaligus pemegang otoritas atas teknologi yang kita pegang.

Menembus kaca pembatas

Bantuan yang bisa diberikan oleh telepon genggam pun mencakup proses mengakali kondisi ruang pameran yang mengganggu. Seperti sebelumnya dikatakan, cahaya dalam ruang pameran begitu terang dan memantul dimana-mana di setiap kaca diorama. Begitu pula cahaya dari mesin penjaja minuman yang dengan mentereng dan seenak-enaknya muncul dalam rekam gambar diorama akibat adanya pembiasan oleh kaca. Distorsi ini oleh kamera telepon genggam justru bisa menjadi sebuah celah untuk bermain. Apa yang semestinya menjadi distraksi justru mampu membentuk sebuah kebaharuan narasi.

Pada Diorama Pertempuran Surabaya misalnya. Ketika kita membaca diorama ini, mata kita tak mampu mengelak dari timpaan pembiasan cahaya di ruang pameran yang masuk ke dalam diorama. Bahkan, tak jarang mesin penjaja minuman tahu-tahu muncul di latar belakang diorama atau sekedar hadir menimpali si pejuang yang tengah berperang. Begitu seenaknya kehadiran mesin penjaja minuman ini hingga ia bisa seolah-olah menjadi bagian dari diorama. Belum lagi bayang-bayang pengunjung lainnya yang masuk ke diorama dan seolah menjadi jin hantu warna hitam besar di arena pertempuran!

Distorsi dan keributan yang mempersulit proses membaca atau mengabadikan diorama sebetulnya tak jauh beda dengan pengetahuan spektator diorama yang penuh distorsi. Sistem lokasi yang memiliki banyak gangguan ini adalah batasan dari diorama. Namun segala hambatan dan kesulitan membaca diorama ini masih bisa disulap menjadi sebuah ruang bermain.

Kamera telepon genggam dalam hal ini ternyata mampu menjadi sihir yang memainkan distorsi dan distraksi yang diakibatkan oleh kaca. Alih-alih menjadikannya sekedar pembatas, kaca malahan dirubah menjadi sebuah jembatan untuk menembus diorama. Pembiasan yang hadir pada kaca diorama kemudian diposisikan agar benar-benar menjadi bagian dari diorama. Tentunya proses ini pun melewati suatu seleksi dan rekonstruksi namun dilakukan sepenuhnya oleh pemegang kamera. Akibatnya, narasi peperangan melawan musuh di diorama Pertempuran Surabaya bisa menjadi hal yang sangat surealistis ketika oleh mata kamera bayangan mesin penjaja minuman dimasukkan dan dibingkai menjadi sasaran tembak panser. Lewat sudut dan posisi mata kamera yang lain, mesin ini juga bisa berubah seolah menjadi sasaran tembak para tentara atau menjadi sebuah tas aneh yang dibawa-bawa salah seorang pejuang. Ia bahkan bisa menjadi sekedar imajinasi incaran pemuda-pemuda yang tengah main petak umpet!

Jika demikian, maka tak hanya memperbesar dan menangkap apa yang mata manusia tak bisa tangkap. Kamera telepon genggang bahkan mampu membelokkan sebuah narasi dan membuatnya berbeda dari narasi keseluruhan. Ia menjadi sebuah instrumen untuk membangun narasi yang baru dan untuk memilah-milah narasi yang terbaca.

Namun, pembelokkan narasi semacam ini hanya bisa didapati ketika kita melihat lewat mata kamera dan secara sadar membingkai apa yang ingin kita tampilkan. Kehadiran kamera dalam hal ini memang ditujukan untuk menyusup lebih dalam ke dunia yang nampak agar bisa mengeksplor dan merekam fenomena visualnya. Operasional kamera dengan lugas diluaskan hingga proses membingkai dan mewujudkan abstraksi dari isi kepala pemegangnya. Dalam hal ini, kita memilih sejarah mana yang ingin kita hadirkan.

Bias Belok Baca Sejarah

Nyaris setiap diorama hadir sebagai suatu representasi sejarah yang telah terpilah, begitu pula diorama pada Monumen Nasional. Ia hadir sebagai narasi yang diseleksi oleh otoritas tertentu untuk menghadirkan kembali sebuah peristiwa lampau, dalam hal ini ialah peristiwa perjuangan Indonesia dari zaman batu hingga lewat era kemerdekaan. Rekonstruksi sejarah ini melewati proses seleksi peristiwa hingga akhirnya menjadi sebuah visual diorama 3D dengan narasi tertentu. Representasi sejarah ini kemudian menjadi sebuah narasi tak bertuan yang sebetulnya terbuka bagi intepretasi bebas pembacanya. Namun sayangnya, celah antara pengetahuan spektator dan diorama sering membuat kondisi gagap membaca bagi spektator. Belum lagi bayang-bayang lokasi hari ini menjadi presentasi yang selalu menginterupsi pembacaan spektator atas diorama representasi sejarah.

Mengakali gap pengetahuan di hari ini, teknologi semacam kamera telepon genggam memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan bagi keduanya. Melalui selfie, tanpa sadar sebetulnya seorang spektator telah memasukkan dirinya ke dalam representasi sejarah. Sehingga presentasi hari ini dan representasi masa lalu dapat tergabung dalam suatu representasi yang baru atas masa kini dan masa lalu. Perilaku semacam ini justru mampu menciptakan ruang bermain untuk mengatasi kesulitan dalam membaca representasi sejarah. Malah melalui bantuan teknologi yang memainkan bias kenyataan hari ini ke dalam sejarah, maka narasi dari sejarah itu sendiri pun mampu dibelokkan.

Secara spesifik, kamera dari telepon genggam memiliki fitur yang mampu menangkap keseluruhan bayangan yang dibiaskan kaca beserta objek yang ada di balik kaca yang sama. Kemudian menggabungkan keduanya menjadi sebuah kesatuan visual yang baru. Tentunya dengan bingkai cerita yang baru pula.

Dalam hal ini, kamera memberikan keleluasaan bagi penggunanya untuk membelokkan konteks dan menuliskan narasinya sendiri, lepas dari narasi terberi yang sudah ada. Melalui otoritas penggunanya, kamera memperlihatkan kembali apa yang ia lihat kepada mata alamiah manusia. Kehadiran realitas direkonstruksi dengan bingkai dan seleksi sedemikian hingga agar menjadi suatu representasi baru sesuai kehendak pemegang kamera. Sehingga secara sadar pun seseorang sebetulnya bisa memilih narasi yang ingin dimunculkan melalui otoritas mata kamera. Inilah peluang menggegarkan balik sejarah yang rupanya bisa diraup dari celah antara pengetahuan di masa kini dan representasi masa lalu di diorama.

Keluar Masuk Narasi

Sebagai sebuah karya tiga dimensi, diorama tak hanya menawarkan berbagai perspektif tapi juga berbagai narasi. Dari satu narasi yang bulat-bulat dihadirkan dalam diorama, rupanya ada pula narasi-narasi kecil di sudut-sudut diorama yang kemudian dalam bisu menunggu untuk diceritakan.

Pada prosesnya, kehadiran narasi dalam diorama pun bukannya tahu-tahu ada begitu saja. Ia melalui sebuah proses panjang yang di dalamnya kontrol kuasa dan pembuatan cerita sebuah sejarah terjadi. Setidaknya hal ini dimulai dari sebuah reduksi atas peristiwa dan sosok-sosok mana yang ‘perlu’ untuk ditampilkan. Sebagai konsekuensinya, seleksi peristiwa pun muncul dan merubah bentuk dari keseluruhan narasi yang terjadi. Menjadikan sejarah yang ditampilakan bagi publik sebetulnya hanyalah representasi sejarah yang menjadi medium kontrol bagi negara untuk membentuk imaji tentang dirinya. Yang pada proses diorama dimunculkan dalam bentuk miniaturisasi dan cheerypicking tokoh serta peristiwanya.

Dalam bentuk minatur yang tiga dimensi inilah diorama muncul sebagai sebuah representasi dan rekonstruksi sejarah. Namun, keadaan representatif ini hanya berlaku ketika diorama ini tidak dibaca. Sedangkan dalam kondisinya ketika dibaca, diorama menjadi sebuah presentasi yang hadir, tampil dan bahkan secara dinamis dapat direpresentasikan kembali. Potensi kehadiran ini menjadikan sejarah adalah ruang yang sangat terbuka bagi intepretasi publik.

Arus keleluasaan ini begitu sulit untuk terbendung terutama dengan hadirnya teknologi digital. Meskipun demikian, kejelian untuk memilah teknologi pun perlu digalakkan sebab terkait pula pada seleksi publik untuk menuliskan sejarahnya sendiri. Konteks memasukkan dan mengeluarkan peristiwa serta tokoh yang tadinya hanya menjadi otoritas negara kini pun dapat dimiliki oleh publik. Dengan bantuan teknologi, publik bisa mengalami kembali sejarah dan bahkan bisa menemukan hal-hal yang tadinya luput dari perhatian narasi besar sejarah. Menjadikan adanya kebocoran dari skenario sejarah yang dibuat oleh negara.

Kebocoran ini malahan menjadi sinyal bahwa sejarah memang adalah fiksi yang bisa menjadi milik bersama. Sangat muskil untuk mengkristalkan sejarah dan mengurungnya dari terpaan intepretasi terutama pada era inovasi teknologi hari ini. Darinya selalu ada ruang bermain intepretatif yang memungkinkan sejarah untuk dialami kembali dan dihubungkan kepada generasi yang tidak mengalaminya sekalipun melalui hal yang trivial. Dan pada saat yang bersamaan, kebocoran ini menjadi wujud keagenan publik dalam menarasikan sejarahnya. Suatu kegegaran dan peristiwa pecah belah sejarah oleh publik yang akhirnya terayakan atas bantuan teknologi masa kini.***