Jembatan Transparan

Mengunjungi Monas

Pertama kali saya menginjak Monas mungkin kira-kira sembilan tahun yang lalu, ketika saya mulai menetap di Ibukota bersama ibu dan adik-adik saya. Saat itu, bapak saya yang harus tinggal terpisah dari kami sedang mengunjungi Jakarta dan mengajak keluarga kecilnya untuk berwisata ke Monas hanya karena anggapan beliau bahwa “Bukan orang Jakarta namanya jika belum mengunjungi Monas.” Saat itu, saya hanya mengiyakan saja karena, toh, saya juga ingin resmi dibilang sebagai “orang Jakarta”.

Kesan saya setelah pertama kali mengunjungi Monas adalah, “Buset! Cuman begini doang, nih?” Saya yakin pasti kesan ini juga dimiliki oleh hampir seluruh pengunjung Monas. Selain karena terlalu lama menunggu untuk masuk ke dalam ruang pamer diorama Monas dan ke puncak Monas, menurut saya Monas tidak menyuguhkan komoditas lain untuk menarik saya dan itu membuat saya merasa Monas tidak spesial untuk dikunjungi.

Sejak saat itu, bapak saya, setiap kali datang ke Jakarta, pasti selalu mengajak keluarganya untuk piknik ke Monas. Kami semua sepakat untuk piknik ke Monas saat malam minggu saja, karena tidak kuat jika harus mengunjungi Monas saat matahari sedang terik-teriknya. Lagi pula, mengunjugi Monas saat malam hari lebih menyenangkan karena bisa berselonjor di atas rumput sambil makan kacang rebus dan melihat ondel-ondel, sepeda-sepeda berlampu LED, dan lampu-lampu cantik yang ditembak ke Tugu Monas. Sayangnya, kebiasaan itu berhenti ketika saya mulai memasuki bangku kuliah dan aktif di organisasi kampus.

Kurang lebih lima tahun kemudian, sejak kebiasaan piknik di Monas berhenti, saya diajak oleh seorang kawan untuk berkontribusi di Program AKUMASSA-Diorama, melakukan penelitian tentang diorama di Museum Nasional, Monas. Entah ini adalah takdir atau konspirasi semesta, akhirnya saya kembali menemui Monas, bahkan hampir setiap hari saya mengunjungi Monas selama satu bulan. Ketika kembali ke Monas, saya agak kaget dengan perubahannya. Monas kini sudah lebih sistematis, walau tak bisa dipungkiri kalau masih ada kekurangan di sana-sini.

Melihat Diorama

Saat saya kembali melihat diorama Monas, tak dapat disangkal bahwa kepala ini penuh dengan recall memory akan pengetahuan sejarah yang sudah dipelajari dari bangku sekolah maupun dari buku-buku lain. Jelas ini menyulitkan saya sebagai pengunjung dengan otak bawel yang selalu bertanya, “Kenapa begini? Kenapa begitu?”, kepada setiap diorama yang dilihat, padahal kebutuhan riset menuntut saya untuk fokus mengamati visual diorama tanpa mengingat narasi besar yang ditawarkan oleh si pembuat diorama. Saya jadi jengkel dengan keberadaan kaca diorama yang menyulitkan saya untuk mengamati diorama lebih jauh. Diam-diam, saya berharap seandainya saya adalah Jinny, si jin cantik di sinetron Jinny Oh Jinny, mungkin saya sudah mengedipkan mata sambil mengangguk centil sebagai mantera supaya saya masuk ke dalam diorama-diorama itu, alih-alih berdiri di depan kaca diorama dan berusaha untuk melihatnya dengan susah payah.

Kaca diorama semakin membuat jengkel saya ketika saya ingin mengabadikan diorama dengan kamera ponsel saya karena sifatnya yang memantulkan bayangan di luar diorama dan cahaya-cahaya yang ada di ruang pamer diorama. Belum lagi, adanya penerangan yang rendah di beberapa diorama, seolah-olah mendukung kaca untuk memantulkan bayangan di luar lebih kuat lagi. Ditambah pula kapasitas pengetahuan saya yang masih terbatas ketika harus melakukan semacam “pembesaran” demi menemukan narasi kecil yang dicari-cari.

Hingga pada akhirnya, tibalah tahap untuk memotret diorama lebih jauh lagi dengan melibatkan bayangan yang terpantul dari kaca pembatas diorama. Metode ini sebenarnya cukup memudahkan saya untuk akhirnya bermain-main dengan proses pembesaran tersebut. Yang awalnya bayangan itu menjadi gangguan karena saya berfokus untuk melihat diorama secara jelas, karena semua yang dilihat harus jadi elemen visual, dengan metode ini justru bayangan itu yang dicari agar bisa menyatu dengan diorama. Dengan begitu, bayangan secara otomatis menjadi elemen visual itu sendiri. Saya akhirnya mencari diorama yang menurut saya paling menarik. Saya menemukan beberapa diorama yang jika dimasukkan unsur bayangan itu, menghasilkan narasi yang unik. Saat ada gestur orang yang sedang merokok, saya coba untuk menyalakan korek dan mengatur refleksi api dan objek rokok. Atau, ketika ada gesture orang yang sedang menunjuk, saya coba memantulkan bayangan jari saya yang menunjuk balik, tentunya dengan bantuan kamera sebagai medium penangkap citra.

Saya akhirnya menjadikan kaca pembatas diorama ini sebagai jembatan bagi saya untuk bermain-main dengan peristiwa yang ada di dalam diorama. Saya jadi lupa narasi besar dari diorama itu sendiri. Kaca yang tadinya menjadi penghalang, malah menjembatani saya untuk merefleksikan respon yang saya coba masukkan ke dalam diorama.

Saya menganggap diorama ini sebagai representasi atas peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia dari zaman manusia purba, hingga era Orde Baru. Representasi peristiwa ini yang selalu dipertanyakan setiap kali saya melakukan pengamatan bahkan hingga sekarang. Setelah saya memasukkan bayangan yang dipantulkan oleh kaca, saya menganggap bayangan itu yang menjadi representasi atas respon saya ketika melakukan pembesaran gesture-gesture yang terdapat di dalam diorama. Dengan menggunakan kaca sebagai jembatan, narasi besar itu menjadi bias dan terciptalah narasi baru yang bahkan terlepas dari unsur narasi besar itu sendiri.

Kaca Sebagai Jembatan dan Jembatan Kaca

Sebelum membahas penglihatan saya atas kaca pembatas diorama yang saya anggap sebagai jembatan, saya ingin sedikit membahas pembicaraan saya dengan seorang kawan ketika kami berbincang tentang jembatan. Kami beranggapan bahwa jembatan merupakan media yang berfungsi untuk mempermudah perpindahan tempat atau penyeberangan dari satu titik ke titik lainnya, yang dipisahkan oleh hambatan berupa sungai, laut, dan lain-lain. Jembatan juga harus memiliki konstruksi yang kuat agar objek yang berat sekali pun dapat menyeberanginya tanpa perlu khawatir bahwa jembatan itu akan runtuh. Akan tetapi, setelah berbincang, kami menemukan kenyataan berbeda dari pandangan kami sebelumnya mengenai jembatan. Salah satunya adalah jembatan yang terbuat dari kaca tipis yang ada di daerah Shiniuzai dan Zhangjiajie, Cina. Saat saya mencari tahu lewat Google tentang jembatan kaca, yang terpikirkan oleh saya adalah ada hubungan apa antara Negeri Cina dengan jembatan kaca yang dibuat untuk menyeberangi Grand Canyon di Provinsi Zhangjiajie. Jikalau melihat berita-berita yang memuat jembatan kaca tersebut, banyak sekali berita kontroversial yang diangkat. Contohnya, ada mobil yang melewati jembatan kaca tersebut, pengunjung yang memukul lantai kaca jembatan, hingga bahkan jembatan tersebut pernah ditutup selama sebulan sejak 13 hari diresmikannya jembatan kaca Zhangjiajie. Namun, ada satu berita yang menarik bagi saya, yaitu tentang arsitek jembatan Zhangjiajie, Haim Dotan, yang berasal dari Israel. Dia awalnya menolak untuk membangun jembatan yang melintasi Grand Canyon tersebut karena pemandangannya terlalu indah untuk dirusak dengan penampakan jembatan.

Penolakan ini ternyata tidak mematahkan semangat pengembang yang merencanakan pembangunan jembatan Zhangjiajie. Setelah bernegosiasi, akhirnya Dotan mengalah dan berkata, “Kita dapat membangun sebuah jembatan, tapi dengan satu syarat: Saya ingin jembatan ini tak nampak.” Berangkat dari pernyataan Dotan tersebut, maka terciptalah jembatan kaca ini.

Jembatan Zhangjiajie ini menjadi menarik untuk dibahas karena mematahkan stigma bahwa konstruksi jembatan itu harus kuat. Bahkan Dotan sendiri pun sebagai arsiteknya menertawakan rancangan jembatan yang ia buat dengan ketebalan kaca hanya 5 cm itu. “Ya, Tuhan! Bisakah kalian bayangkan, seorang insinyur konstruksi menggambarkan jembatan yang seperti ini?” (Stinson, 2015). Selain itu, rancangan Dotan yang ingin membuat jembatan yang tidak tampak itu juga menjadi poin utama atas tulisan ini: bagaimana kaca yang dapat menembus pandangan akan objek diseberangnya, atau jika dihubungkan dengan diorama, bagaimana kaca dapat menyeleksi penglihatan pengunjung terhadap diorama yang ada di balik kaca…?

Ah! Saya jadi teringat pengalaman kawan saya ketika melihat sekaligus memotret diorama dengan menggunakan kamera SLR dengan tambahan fitur lensa tele-nya. Kami selalu mengunjungi Monas bersama selama kurang lebih satu bulan terakhir. Suatu hari, teman saya itu kebetulan menemukan tiga pasang kaki tanpa badan di salah satu diorama. Dan lucunya, tiga pasang kaki tersebut hanya bisa dilihat dengan medium pembesaran (alias teknologi). Jika kita melihat dengan mata telanjang, tiga pasang kaki misterius itu belum tentu dapat ditemukan. Merujuk temuan ini, maka kaca bukanlah lagi sebuah penghalang karena teknologi memiliki kemampuan untuk membawa mata kita mampu menembusnya lebih dalam. Kaca, dengan demikian, bukanlah penghalang melainkan jembatan. Ia menghubungkan diorama dengan pengunjung. Peran kaca menjadi disorder. Dia tidak lagi patuh pada tugasnya untuk membatasi.

Tiga Pasang Kaki Misterius dan Orang Hilang

Diorama Monas harus melalui dua rezim besar Indonesia untuk dapat benar-benar diresmikan. Pada rezim Soekarno, pembuatan diorama melibatkan tim sejarawan untuk melakukan penggambaran atas peristiwa, penyuntingan, penyensoran¸ dan lain-lain. Ketika masuk ke rezim Soeharto, kemudian dilakukan penyeleksian ulang atas diorama yang sudah dirancang oleh Soekarno agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila menurut versinya. Pun seperti yang sudah-sudah, pembuatan diorama di rezim Soeharto juga dipengaruhi oleh represi yang cukup besar, terutama terkait penyeleksian atas peristiwa dan narasi yang dibangun untuk diorama.

Adanya seleksi peristiwa yang mewakili kepentingan-kepentingan tertentu inilah yang tentu menyulitkan Alm. Edhi Sunarso sebagai seniman yang ditugaskan Negara untuk merancang diorama. Melalui wawancara antara Grace Samboh dengan Alm. Edhi Sunarso, diketahuilah bahwa memang terdapat revisi besar-besaran terhadap diorama yang kebanyakan sudah jadi, salah satunya diorama tentang peristiwa penyerahan Surat Perintah 11 Maret.

Mengenai penemuan tiga pasang kaki misterius itu, saya dan kawan-kawan akhirnya berdiskusi: apakah ini merupakan kelalaian si pembuat diorama, ataukah memang si pembuat diorama dengan sengaja menyelipkan “harta karun” itu karena represi rezim yang membuat hilangnya kebebasan berekspresi si seniman…? Penemuan ini juga tampaknya dapat kita anggap bahwa pada setiap represi, akan ada ruang-ruang oposisi sebagai celahnya walaupun tidak besar dan sifatnya berupa trivia. Tiga pasang kaki misterius ini bisa dibaca sebagai “harta karun” karena eksistensinya sebagai bagian dari diorama tidak hilang dan terbuka bagi publik yang melihatnya.

Diskusi ini semakin menaikkan gairah saya dan kawan-kawan untuk bermain-main dengan diorama. Bagaimana jika tiga pasang kaki misterius tersebut dikaitkan dengan kasus orang-orang yang dihilangkan oleh rezim? Yang bahkan setelah 16 tahun runtuhnya rezim Orde Baru, orang yang hilang tetaplah hilang, dan peran negara seakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, alias disorder! Sepertinya, tidak ada tendensi Negara untuk menyelesaikan permasalahan orang hilang selama ini. Akhirnya, saya dan kawan-kawan mengunjungi LBH Jakarta, Elsam, dan KontraS untuk mencari dokumentasi berupa arsip-arsip yang membahas orang hilang pada era Orde Baru. Saya menemukan hal yang menarik di beberapa artikel koran, bahwa ABRI sebagai institusi atau jawatan negara yang sekian puluh tahun terlibat dengan kasus penghilangan orang ini, selalu menolak untuk bekerja sama dengan institusi lainnya dalam mengungkap kasus orang hilang. Selain itu, pengadilan pun turut memberatkan proses pencarian orang hilang.

Hal ini makin mendukung anggapan saya bahwa disorder di jawatan Negara itu memang ada. Bagaimana tidak…?! Keluarga para korban orang hilang bersama institusi yang mendukungnya sudah sekian tahun mencari dan menuntut proses hukum ke Negara. Tapi, alih-alih bergerak maju, jalan mereka malah semakin tersendat. Proses penegakan hukum ini tampaknya dipengaruhi oleh kekuasaan yang terlalu tinggi untuk dijangkau. Negara yang seharusnya menjadi jembatan bagi korban orang hilang untuk menegakan hukum, tampaknya terhalang karena adanya disorder yang membuat jembatan ini tidak berfungsi sebagai mediasi, sebagai penghubung, sebagai penyeberangan bagi objek yang hendak melewatinya. Atau mungkin, jembatan ini memang disengaja untuk tak terlihat, seperti kata Dotan, “Saya ingin jembatan ini tak tampak.”


Bibliografi

Stinson, L. (2015, Juni 05). The World’s Longest (and Scariest) Glass Pedestrian Bridge. Retrieved November 11, 2016, diakses dari Wired: https://www.wired.com/2015/06/worlds-longest-scariest-glass-pedestrian-bridge/