Kuliah Bersama Ade Darmawan: Menjadi Seniman

 

“Menurut lo seniman yang baik itu yang kayak apa?”

Ade Darmawan membuka sesi kuliahnya dengan pertanyaan di atas yang bikin senyum-senyum seluruh peserta diskusi yang pada hari Rabu, 1 Maret 2017 itu hadir di ruang rapat, Hall A1, Gudang Sarinah. Satu-persatu peserta pun mulai menjabarkan kriteria-kriteria “seniman yang baik” menurut definisinya masing-masing, yang di antaranya: punya karya yang bertanggung jawab, berwacana, memiliki intensitas, skill, kepekaan, imajinasi, dan masih banyak lagi. Jawaban para peserta disalin satu-satu oleh Ade ke selembar kertas besar. Saya ingat sekali, Otty yang waktu itu duduk di sebelah saya berceletuk, “Hati-hati kejebak, lho.” Dan benar saja, setelah itu Ade langsung melemparkan pertanyaan yang membenarkan dugaan “jebakan” tadi sambil menunjuk ke arah kriteria-kriteria yang ia tulis, “Lalu apa bedanya seniman sama dokter? Atau polisi? Atau profesi lain?”

Saya sedikit tercengang dan merenung, “Ya iya, masa dokter ga bertanggung jawab? Ga punya skill?” Peserta yang lain pun terdiam, mungkin memikirkan hal yang sama dengan saya. Ade pun mulai memecah keheningan temporer itu dengan melingkari dua kriteria, yaitu imajinasi dan kepekaan. Selama saya berproses dalam mengenal seni di Forum Lenteng, saya selalu diingatkan tentang intensitas yang dapat mengasah keterampilan. Dalam diskusi bersama Ade Darmawan ini, ia justru menekankan bahwa selain intensitas dan keterampilan, yang menjadi highlight seorang seniman adalah imajinasi dan kepekaan yang dimiliki. Keduanya menjadi pembeda antara seniman dan profesi lainnya.

Kemudian Otty berceletuk lagi, “Kurang intens apa coba belajar seni? Syarat lulus dari sekolah seni aja perlu menghasilkan 500 karya.” Lalu bagaimana dengan saya dong, yang sekolah perpajakan tapi mau belajar seni? Bagaimana dengan kawan-kawan di AKUMASSA-Diorama yang hampir semuanya tidak ada yang mengambil sekolah seni? Aduh, celetukan Otty memang selalu membuat saya merenung dalam-dalam kemudian jadi merasa tidak nyaman. Bagaimana ya mentradisikan tubuh ini untuk intens dan dapat menghasilkan karya yang baik, seperti layaknya para lulusan sekolah seni?

Lagi-lagi Ade menjawab gundah-gulana saya. Ia kemudian mengeluarkan laptop dan menyambungkannya dengan proyektor, membuka-buka folder sesaat, kemudian meng-klik file presentasi yang kurang lebih berisi tentang proses kreatif. Ia menjelaskan, bahwa untuk mentradisikan tubuh agar intens dalam proses berkarya, maka diperlukan juga latihan kepekaan visual. Ah, saya jadi ingat, dulu tim AKUMASSA-Diorama sempat mendapat kelas fotografi, video, dan membongkar/membedah filem. Saya ingat sekali setelah saya mengikuti proses bongkar filem tersebut saya berkata, “Menonton filem kini rasanya sudah tak sama lagi.” Dan memang, kelas-kelas yang telah diikuti oleh tim AKUMASSA-Diorama merupakan sebuah latihan kepekaan visual yang saya yakin jika dilakukan secara intens maka akan menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan dalam proses berkarya.

Kemudian Ade melanjutkan pembahasan terkait langkah-langkah penciptaan ide atau brainstorm, yaitu: (1) buat daftar ide sebanyak mungkin; (2) jangan mengkritik terlalu cepat; (3) buat ide yang beda/unik; (4) kombinasikan ide. Langkah-langkah ini juga diimplementasikan tim AKUMASSA-Diorama dalam proses penciptaan ide. Walau tim AKUMASSA-Diorama bekerja meneliti sejarah dan artefak, namun kami tak pernah lepas dari metode pendekatan seni untuk membongkar setiap kerja media yang dihasilkan oleh negara. Ade juga mengingatkan bahwa diperlukan bahasa visual dan strategi artistik yang menarik agar karya yang telah mengandung wacana sosial politik tetap menarik untuk dibaca oleh publik.

Terakhir, Ade menegaskan agar kami tidak hanya menghasilkan karya yang estetik, tapi harus yang tidak apolitis dan punya etik. Hal ini berangkat dari pandangan Ade terhadap fenomena seniman-seniman yang “terpeleset” karena, selain kurang literasi, karyanya tidak sadar kondisi sosial politik dan bahkan melanggar kode etik.

“Kalau memang lo mau dianggap jadi seniman yang baik, setidak-tidaknya karya lo mengandung tiga hal ini: etik, estetik, politik.” tutupnya.***