Kuliah Bersama Akbar Yumni: Sejarah Publik vs Sejarah Objektif

Perkembangan terakhir dari Filsafat Sejarah, salah satunya dibahas oleh Gadamer lewat studi Hermeneutikanya. Dalam sudut pandangnya itu, sejarah kemudian dapat dilihat sebagai sesuatu yang terbuka. Semisal orang yang sedang membaca sejarah, dia sendiri adalah bagian dari sejarah. Sejarah pada hakikatnya tidak dapat digenggam atau tidak dapat diobjektifkan. Kritik ini disampaikan lewat analogi ikan dalam akuarium—ikan memang bisa melompat tapi akan kembali jatuh lagi ke akuarium tersebut, tidak bisa melampaui akuarium untuk melihat diri dan lingkungannya sebagai objek yang terpisah atau tidak terlibat. Begitulah bagaimana sejarah kemudian perlu disikapi, alih-alih melihatnya sebagai objek yang bisa dibekukan seperti yang dilakukan oleh sejarah objektif dengan hasrat untuk mencari apa yang benar-benar terjadi di masa lalu, dengan mencari alat bukti untuk mendukung tercapainya upaya mencari kebenaran tunggal.

Pemikiran tentang hal itu disampaikan di Forum Lenteng oleh Akbar Yumni, kritikus dan pemerhati kebudayaan dari Forum Lenteng, pada tanggal 2 November, 2016. Kuliah dari Akbar Yumni mengenai filsafat sejarah tersebut merupakan bagian dari kegiatan Diorama.

Menurut Akbar, dalam melihat peristiwa 1965, misalnya narasi sejarah terkait peristiwa tersebut, pada awalnya, adalah mengenai siapa kambing hitam peristiwa pembantain para jenderal. Setelah bercokol dengan narasi ini, lantas bergulir narasi selanjutnya mengenai kesaksian korban, hingga bentuk terakhirnya adalah rekonsiliasi sejarah yang melibatkan banyak elemen selain PKI. Perguliran sejarah ini membuktikan bahwa upaya membekukan sejarah secara objektif tidak dapat menghentikan dialektika sejarah. Sebab, sifat dialektika sejarah adalah terbuka dan dapat terus berkembang sesuai dengan kesadaran dan kemampuan masyarkaat untuk menyikapinya; karena masyarakat adalah pelaku dari sejarah serta penonton sejarah maka masyarakat selalu mengalami sejarah itu sendiri. Masih mengenai peristiwa 1965, pada awalnya yang memiliki hak berbicara hanya Negara, militer serta korban. Seiring berjalannya waktu, banyak pihak yang bisa secara inklusif membicarakan peristiwa tersebut kini.

Berkaca dari keadaan di atas, sejarah sebenarnya juga dapat dilihat secara performatif. Dengan kata lain, sejarah dapat dipahami lewat impresi, seperti kerja yang dilakukan oleh Joshua Oppenheimer lewat filem The Act of Killing (2012). Filem ini menyajikan narasi 65 tidak secara presisi ataupun objektif; tidak pula secara naïf ingin merekonstruksi kejadian di masa lampau sebagaimana kejadian itu terjadi. Filem ini melakukan kerjanya dengan menghadirkan pelaku dan korban yang mampu membangun impresi bagi penonton meskipun hampir sama sekali tidak menghadirkan dokumen sebagaimana yang umumnya dilakukan dalam pendekatan objektif terkait 1965. Akan tetapi, filem ini mampu membangkitkan hasrat khalayak untuk ikut membicarakan kembali peristiwa 1965. Hal ini menunjukan bahwa sejarah secara performatif lebih mampu menjangkau masyarakat jika dibandingkan dengan sejarah objektif. Pada hakikatnya, sejarah itu dialami (present), dalam arti melibatkan kebertubuhan, dan bukan semata dihadirkan kembali (represent).

Dalam hubungannya dengan topik yang dikaji dalam proyek seni Diorama, Akbar merefleksikan upaya yang dilakukan oleh tim Diorama sebagai kerja sejarah publik yang menekankan impresi dalam menyikapi narasi sejarah yang tersaji dalam bentuk diorama di Monumen Nasional. Aksi yang dilakukan dengan memotret visual di balik bingkai kaca pada pajangan diorama di dalam museum tersebut adalah upaya performatif yang kemudian dilanjutkan dengan refleksi (diskusi dan kajian), baik secara individu maupun kelompok, hingga akhirnya diejawantahkan dalam bentuk tulisan dan kemudian pameran.