Kuliah Bersama Gesyada Annisa Siregar: Pembacaan Terhadap Tiga Non-Nashar dengan Metode Patrap Triloka

Sebagai bagian dari upaya memahami perkembangan senirupa dan mempelajari cara-cara untuk melihat kembali perkembangan tersebut, Gesya Annisa Siregar, pegiat seni lulusan Institut Kesenian Jakarta, berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelesaikan penelitian tentang salah seorang tokoh senirupa Indonesia, Nashar, yang ia ajukan sebagai tugas akhir untuk meraih gelar Sarjana 1 di bidang senirupa. Presentasi tersebut dilakukan pada sore hari, tanggal 17 Oktober, 2016, di markas Forum Lenteng dalam rangka pengayaan wawasan kebudayaan bagi partisipan proyek seni Diorama.

Gesya menceritakan upayanya untuk membaca perjalanan hidup Nashar dan relevansinya terhadap aktualisasi dirinya dalam berkarya menggunakan metode Patrap Triloka. Menurut pemaparan Gesya, Nashar sendiri tidak pernah sengaja melukis, tetapi  dia mampu mengembangkan struktur dalam berkarya, yaitu pemikiran tentang “Tiga Non”: non-prakonsepsional, non-estetik akademis, dan non-teknik akademis. Perjalanan intelektual Nashar dalam mencapai pemikiran mengenai konsep tiga non tersebut ternyata merujuk pada metode Patrap Triloka yang diterapkan oleh Taman Siswa (1922), yang terdiri dari: ing ngarsa sung tulada (‘di depan memberi teladan’); ing madya mangun karsa (‘di tengah membangun kemauan/inisiatif); dan tut wuri handayani (‘dari belakang mendukung’).

Jika kita mengacu kepada Patrap Triloka, aplikasi pendekatan “Tiga Non” milik Nashar dapat dilihat membawa inti sari dari konsep ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Untuk memahami hal ini, perlu ditelusuri tokoh-tokoh yang memengaruhi Nashar, yaitu S. Sudjojono dan Affandi selaku guru, juga Oesman Effendi dan Chairil Anwar sebagai teman Nashar. Menurut penelitian Gesya, Chairil Anwar, contohnya, pernah berujar pada Nashar di awal perjalannya, bahwa Nashar rajin melukis kemelaratan tanpa tahu penderitaan yang sesungguhnya dialami rakyat. Ujaran itu kemudian ditanggapi Nashar dengan berpindah ke Bali hingga muncul pencerahan untuk tidak memusingkan teknis. Tokoh-tokh lain yang juga memegaruhi, antara lain Putu Wijaya dan Teater LHO (salah satu kolektif teater tanpa naskah), serta seniman barat bercorak pembebasan, seperti Pablo Picasso dan Andre Breton. Juga ada pengaruh institusi, seperti Keimin Bunka Shidoso, juga pusat kebudayaan, seperti Balai Budaya dan Taman Ismail Marzuki.

Merujuk pada ing madya mangun karsa, Gesyada berpendapat bahwa terdapat faktor internal dan eksternal pada Nashar, seperti gaya hidup yang mandiri dan tidak hanya berdiam di lokus studio yang insular, kebiasaan membaca sejak kecil, dan kebiasaan untuk menuliskan pemikirannya, serta kegemarannya untuk berdiskusi dengan teman-teman di sanggar. Kedua dinamika internal dan eksternal ini kemudian membuahkan sebuah solusi bagi problem kepelukisannya.

“Tiga Non” yang kemudian hadir sebagai solusi tersebut dimaksudkan Nashar sebagai perayaan terhadap kemerdekaan seniman, gagasan seni lukis yang artikulatif, pemutakhiran terhadap keterbatasan sebagai pelukis, dan metakritik terhadap mazhab seni lukis modern Eropa, serta Sudjojono dan Affandi. Tiga Non ini kemudian dipraktikan lewat tiga cara, yakni ngerti, ngarsa, dan ngan lakoni. Pendekatan Nashar dalam melukis adalah secara “intuitif – analitik – intutif”. Pemaknaan Nashar tentang praktik berkesenian juga mencerminkan teori Trikon Ki Hajar Dewantara mengenai kontinuitas, konsentrisitas, dan konvergensi. Dalam sudut pandang Ki Hajar Dewantara, mengembangkan karakter dan membina kebudayaan bangsa harus merupakan kelanjutan dari budaya sendiri (kontinuitas) menuju arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi), dan tetap memiliki dan membina sifat kepribadian (konsentrisitas). Ketiga hal ini tercermin pada penggunaan cat, kuas, dan kanvas oleh Nashar.