Kuliah Bersama Hikmat Budiman: Mengalami Sejarah

Pada hari Selasa, 18 Oktober, 2016, sebagai bagian dari rangkaian proyek seni Diorama, kami berkesempatan untuk berbincang dengan pakar sosiologi, yaitu Hikmat Budiman. Pertemuan pertama kami saat itu  diadakan di Yayasan Interseksi untuk mendiskusikan temuan-temuan kami mengenai diorama-diorama yang ada di Monumen Nasional, Jakarta.

Sebelumnya, Hikmat Budiman menjelaskan terlebih dahulu sejarah diorama secara kronologis. Diorama pada awalnya merepresentasikan bentukan-bentukan naturalis, seperti tumbuhan dan hewan. Bentukan naturalis tersebut divisualisasikan berdasarkan habitat aslinya dengan berlatarkan lukisan secara tiga dimensi, bahkan digunakan untuk mengedukasi publik terhadap kebutuhan konservasi habitat alam. Pada perkembangannya, diorama digunakan negara untuk merepresentasikan peristiwa sejarah dan negara memiliki otoritas penuh untuk membentuknya. Keberadaan diorama menjadi penting untuk memediasi pesan dari negara kepada warga negaranya. Dalam konteks di Indonesia,  diorama dihadirkan negara dalam bentuk-bentuk yang militeristik dengan memberikan kesan peran militer sebagai pahlawan bagi warga negara. Dominasi militer memang cukup terlihat pada masa Orde Baru melalui representasi peristiwa sejarah pada diorama. Ia juga menuturkan adanya perubahan bentuk melalui sajian kultural seperti representasi suku-suku di Indonesia pada diorama.

Bertemu dengan Hikmat Budiman di Yayasan Interseksi (Foto: Hafiz Rancajale).

Pada perbincangan tersebut, Hikmat menekankan bahwa diorama merupakan medium untuk menuliskan biografi negara. Medium tersebut juga dapat menyeragamkan perspektif warga dalam mengonsepikan negara dan, saat ini, warga memiliki kebebasan untuk menginterpretasi konsep negara tersebut. Menurutnya, diorama sejarah tidak lagi relevan saat ini. Kini, keberadaan diorama bukan lagi sebagai medium populer untuk menyampaikan sejarah versi negara, bahkan dalam tataran elite politik sekalipun. Generasi-generasi muda juga justru diberikan celah oleh negara agar tidak memiliki beban sejarah sebagai dampak atas buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Celah tersebut memberikan kebebasan bagi warga dan elite politik untuk membuat sejarahnya sendiri atau dari sejarah yang tadinya dibuat oleh negara (state oriented) menjadi sejarah warga (personal oriented), seperti Wikipedia, Blog,  Facebook, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya.

Hikmat juga menyadur artikel dalam penelitian Katharine E. McGregor tentang sejarah Indonesia, bahwa ada pergulatan ideologi antara Orde Lama dan Orde Baru yang terrepresentasikan melalui diorama, salah satunya pada Monumen Nasional. Pergulatan ideologi antara Orde Lama dan Orde Baru dapat dilihat melalui karya-karya seni mereka. Orde Lama cenderung membuat monumen-monumen yang gigantik, seperti patung Selamat Datang, Dirgantara, Monumen Nasional, dan Gelora Bung Karno. Sementara itu, Orde Baru justru membuat miniatur-miniatur diorama. Ia menjelaskan bahwa diorama dibuat agar warga “mengalami” sejarah (real event). Bahkan, warga diberikan kesempatan melalui pengalaman tubuh secara satu banding satu (one on one). Saat ini, sejarah justru dihadirkan dengan kecanggihan teknologi melalui realitas virtual yang didasarkan dengan pengalaman. Pada kesempatan berbeda, yakni 3 November, 2016, kami mengadakan focus group discussion (FGD) bersama Hikmat Budiman di Forumsinema, Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. FGD ini juga merupakan bagian dari proyek seni Diorama, untuk mempersiapkan pameran pertama, bertajuk DIORAMA: Karena sejarah adalah fiksi. Peristiwa FGD itu didokumentasikan sebagai karya sendiri, yang nantinya turut ditayangkan dalam pameran. Diskusi ini dimoderatori oleh Otty Widasari dan diikuti sepuluh peserta, yaitu Albert Rahman Putra, Alifah Melisa, Anggraeni Widhiasih, Ika Yuliana Nasution, Pingkan Persitya Polla, Ragil Dwi Putra, Rayhan Pratama, Riefky Bagas Prastowo, Ryani Sisca Pertiwi, dan Yonri.

Diskusi tersebut diawali dengan sejarah diorama, yakni dimulai ketika Inggris dan Perancis menampilkan panorama-panorama yang ditonton dari jarak tertentu dengan latar lukisan. Pada saat itu, diorama merupakan sebuah hiburan yang menarik dan menjadi pertunjukan yang bisa dinikmati oleh warga. Diorama sekaligus juga merupakan upaya untuk merepresentasikan gerak dari suatu peristiwa. Pada perkembangannya, diorama digunakan pula sebagai media untuk mendokumentasikan kehidupan raja-raja. Diorama juga ditampilkan sebagai konten dalam tradisi museum di negara-negara Asia Tenggara pada abad ke-19. Awalnya, diorama diperkenalkan pada masa kolonial. Pemerintah mengadopsi tradisi museum sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi kolonial.

FGD bersama Hikmat Budiman di Gudang Sarinah (Foto: Hafiz Rancajale).

Hikmat kembali menyadur kajian Katharine E. McGregor, yaitu ada pergeseran paradigma pemerintah untuk menentukan tentang apa yang perlu ditampilkan dan apa yang tidak melalui suatu proses seleksi. Ia memaparkan bahwa Presiden Soekarno pada awalnya membuat diorama di Monumen Nasional sebanyak 40 diorama melalui teknik pencahayaan, miniaturisasi figur, dan berdasarkan kronologis, lantas menyisakan delapan kotak diorama untuk diisi oleh pemerintah selanjutnya. Kehadiran diorama membuahkan kritik warga yang mempertanyakan bagaimana ketika warga melihat tampilan diorama, itu tidak bisa dilakukan 360 derajat (kita hanya bisa menikmati diorama dari satu sisi saja). Dalam sudut pandang ini, dapat dipahami bahwa diorama juga dihadirkan sebagai cara untuk mempertahankan maksud-maksud tertentu, dengan bersandar pada alasan artistik, seperti latar dan panorama, tetapi terikan oleh kepentingan tertentu (yakni, kepentingan negara yang membuatnya). Diorama tidak saja menjadi glorifikasi masa lalu, tetapi juga sebuah janji terhadap masa depan, seperti yang dilakukan oleh Presiden Soekarno yang menyisakan delapan kotak diorama untuk pemerintahan selanjutnya. Berbeda dengan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto yang berkuasa pada era berikutnya justru memberikan penekanan terhadap ideologi Pancasila. Ia juga memasukan pentingnya nilai-nilai yang bersifat militer.

Kini, pembacaan diorama sebagai media negara dalam menuturkan sejarah tidak lagi relevan, bahkan pada tataran lingkungan elite politik. Semenjak runtuhnya pemerintahan yang dipimpin Soekarno dan Soeharto, presiden berikutnya belum melihat pembuatan diorama yang baru sebagai bagian yang penting. Menurut Hikmat, keberadaan diorama justru dapat dilihat sebagai representasi kendali negara dengan kuasa dalam ‘membongkar pasang’ sejarah. Sejak Reformasi terjadi, partai-partai mulai bertambah banyak sebagai bentuk kebebasan dari represi yang sebelumnya dilakukan Orde Baru. Bahkan, menurutnya, tidak ada penokohan yang terjadi dalam peristiwa sejarah, seperti yang terjadi saat Orde Lama diwakilkan oleh ketokohan Soekarno dan Orde Baru diwakilkan oleh ketokohan Soeharto. Dengan kata lain, Reformasi tidak menelurkan tokoh yang sentral. Ia juga menyandingkan dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Melalui keberadaannya, representasi daerah-daerah dari geokultural berubah menjadi geoadministratif; wacana dihadirkan dari ikonisasi suatu daerah tertentu. Hal tersebut justru memicu bagaimana warga mengonsepsikan atau membayangkan Indonesia berdasarkan representasi yang dikonstruksi.

Istilah history (sejarah) atau ‘his-story merupakan bentuk bagaimana sejarah dimaknai sebagai upaya politik. Edy Sunarso sebagai seorang seniman yang bergelut pada pembuatan diorama tidak memiliki kebebasan berekspresi dan dituntut untuk membuat sejarah yang diinginkan oleh negara. Menurut Hikmat, bukan tidak mungkin ada pembacaan lain dari sejarah yang disajikan oleh negara. Berdasarkan temuan-temuan kami yang dielaborasi pada FGD saat itu, Hikmat mengemukakan bahwa aksi performatif yang dilakukan oleh kami membukakan celah bagi warga lainnya untuk menangkap narasi berbeda dari yang dihadirkan negara seperti adegan-adegan yang informal. Pada akhirnya, poin kekritisan dalam aksi performatif kami adalah melawan budaya-budaya yang dimunculkan secara politis, menyederhanakan sejarah, dan kontrol negara. Pada aksi performatif yang dilakukan para partisipan proyek seni Diorama, ada celah dalam melakukan interpretasi visual yang berbeda dari yang negara hadirkan melalui diorama-dioramanya. Aksi ini, menurut Hikmat, merupakan bentuk perlawanan atas sejarah yang bisa ‘digenggam’ dan kini tidak lagi relevan. Multiinterpretasi yang kami lakukan memberikan ‘jembatan’ makna, misalnya seperti kedekatan pada benda-benda yang lazim dilihat. Hikmat menjelaskan bahwa hadirnya teknologi justru memberikan kesempatan untuk bersikap toleran dari kegagalan, seperti undo, restore, dan history (istilah-istilah yang sering kita temui dalam perangkat lunak berteknologi internet).

Menurutnya, di setiap generasi akan selalu ada celah dan peluang untuk membentuk sejarah-sejarah kecil, misalnya lewat sejarah lisan atau hal-hal remeh temeh. Kehadiran realitas virtual (virtual reality) dan augmented reality, misalnya, menawarkan warga untuk masuk ke dalam “ruang sejarah” yang baru. Kini, teknologi memberikan kesempatan kepada warga untuk menuliskan sejarahnya sendiri. Hikmat berpendapat bahwa, pada saat tidak dibaca, rekonstruksi sejarah menjadi representasi, tetapi ketika dibaca, ia akan menjadi presentasi yang hadir secara dinamis dan memungkinkan adanya yang pelepasan (perombakan, penyimpangan, atau interpretasi baru) atas unsur-unsur atau elemen-elemen dari skenario yang dimaksudkan atau dikendalikan oleh negara. Ia menuturkan bahwa, pada proyek ini, celah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai arena bermain bagi warga. Tambahnya pula, ada tugas yang perlu dilaksanakan segera oleh generasi muda, yaitu menggiatkan kritisisme terhadap sejarah itu sendiri dengan kesadaran penuh dan kepekaan terhadap apa yang dilihat.***