Kuliah Bersama Irwan Ahmett: Dari Gigantis Hingga Diorama

Sekumpulan anak manusia dengan latar belakang yang begitu ragam kala itu berjubel di sebuah mobil putih demi menyambangi kediaman seorang seniman dan desainer grafis Irwan Ahmett. Minggu, 2 Oktober, 2016, siang itu menjadi babak pertama kami, tim Diorama, dalam menelusuri wacana-wacana yang melingkupi soal pembacaan terhadap diorama setelah sebelumnya bolak-balik menyambangi diorama sejarah Indonesia di Monumen Nasional, Jakarta. Tulisan ini menyajikan paparan dari Irwan Ahmett yang dilakukan pada tanggal 2 dan 5 Oktober, 2016.

Kuliah bersama Irwan Ahmett di Forum Lenteng (Foto: Yuki Aditya).

Bincangan kami bermula dari konsep gigantisme dalam karya. Menurut Irwan Ahmett, umumnya bangunan memorial yang memang ditujukan untuk membangun ingatan kolektif membutuhkan aspek estetis yang gigantik untuk memberikan efek overwhelming atau luar biasa. Dari segi dampak, memorialisasi dapat membuat suatu benda atau material memiliki kekuatan yang besar, terutama dalam hal menarik minat orang untuk menjadi bagian dari peristiwa atau ingatan kolektif tersebut. Selain itu, gigantisme dalam memorialisasi pun mampu memberi efek mengkerdilkan, seperti halnya desain pada era Gothik yang memberikan efek keagungan yang mengkerdilkan manusia. Dalam hal ini, estetika memainkan kekuasaan berupa kendali atau dominasi.

Museum Tsunami Aceh adalah salah satu contoh konkret dari memorial yang gigantik dan merupakan sebuah replika atas situasi atau kejadian tertentu. Benda visual yang gigantik memberikan efek kebesaran, baik secara ide, konsep, bentuk maupun amplifikasi. Itu kemudian memunculkan suatu penaklukan tanpa disadari seperti halnya karya-karya seni-seni avant-garde yang memengaruhi isi kepala orang. “Bangunan besar”, dalam hal ini, mampu melakukan penguasaan imajinatif dan secara fisik visual. Mirip dengan hal ini, mitos pun dibangun untuk menguasai meskipun tidak dalam bentuk yang termaterialkan.

Lain halnya ketika suatu wacana, narasi atau sejarah dimaterialkan. Ketika ideologi dimaterialkan atau dibuat nyata, maka ia akan menjadi kian nyata. Menurut lelaki yang akrab disapa Iwank ini, rata-rata monumen dan diorama di Indonesia mewakili estetika pemerintah yang terlihat pada kesamaan bentuk, harmoni warna, dan gesturnya.

Diorama sendiri merupakan prosesi refleksi dari perilaku seseorang; dalam konteks dirama, manifestasi ideologi atau ingatan kolektif membutuhkan suatu ritual sebagai ikatannya. Seperti halnya pula aktivitas shopping yang tak hanya sekedar beli barang, tetapi juga membeli nilainya.

Simbol-simbol kemudian bisa menjadi medium pengikat. Bahkan, persepsi politik pun dapat diubah melalui ikon dan gerakan kolektif. Misalnya, ikon-ikon yang muncul dalam Monumen Pancasila Sakti didominasi oleh ikon Angkatan Darat yang dibarengi dengan ikon api membara dalam ornamen Jawa, tepat di sekeliling replikasi lubang buaya. Saat memandang replikasi peristiwa bersejarah ini, mau tak mau pikiran pengunjung museum akan turut mengimajinasikan gagahnya Angkatan Darat sembari menyesap teror tentang keganasan PKI yang terus dipertahankan lewat konstruksi kekejian yang begitu terasa. Dalam hal ini, militer tersebut memiliki narasi yang dikristalkan melalui ikon-ikon tertentu pada monumen.

Cara seperti ini, sebenarnya, juga muncul pada pembuatan diorama di era Soekarno. Baik Orde Lama maupun Orde Baru sama-sama membawa narasinya masing-masing. Pada era Orde Baru, sekurang-kurangnya narasi soehartois termaktub dalam museum Bu Tin atau Museum Purna Bhakti Pertiwi di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) dan Museum Soeharto di Jogja. Di TMII, mewujudlah imajinasi diorama Bu Tin mengenai Indonesia. Akan tetapi, pasca Orde Baru, diorama sebagai narasi pemerintah tak lagi muncul sebagai cara bernarasi pemerintah seutuhnya.

Sejalan dengan ini, Iwank pun menekankan bahwa mengkolektifkan memori bisa dilakukan melalui ritual agar ia kemudian bisa menjadi sebuah kesadaran. Kultus atas momen sejarah, seperti lewat peringatan, ritual, seragam, dan bahkan monumen(tal) dilakukan untuk mengontrol atau melaksanakan fungsi kuasa. Fungsi ini bisa pula terjadi melaui media komunikasi. Di era 1960-an, kala majalah dinding menjadi alat komunikasi yang berpengaruh, maka ia menjadi kanal publik yang paling mudah menjadi perpanjangan tangan kuasa. Di hari ini, media sosial adalah teknologi yang menjalankan peran sakral tersebut. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas, yaitu mudah dalam mereplikasi informasi dan menyasar persepsi publik.

Dengan demikian, pembacaan atas diorama pun terkait erat dengan pembacaan estetika kekuasaan. Tentunya, itu dilakukan melalui visual yang dapat direspon oleh khalayak. Ia bisa hadir melalui diorama yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Yang tak terlihat, misalnya, bisa berupa memori kolektif dan kesadaran. Ia juga bisa dijumpai dalam keseharian jika kita menilik pada media sosial dan kaitannya dengan kekuatan gambar terhadap pembuatan sebuah citra. Dengan kata lain, membaca diorama berarti membaca representasi dari power game negara dalam menciptakan ‘bahasa’ melalui reaksi sosial. Maka, ada dua kunci yang perlu diperhatikan, yaitu diorama dan skenario.

Namun pertanyaanmya, apakah diorama masih dibutuhkan pasca Orde Baru? Bagaimana dengan diorama sejarah ke depannya?

Terlebih dahulu tentulah wacana sejarah ini perlu mengalami suatu perlakuan spasial berupa intepretasi atas sejarah itu sendiri. Dengan demikian, jika pun ingin menandingi wacana sejarah yang telah dikonstruksi negara lewat diorama, diperlukan usaha untuk mengetahui lebih dulu pola, intensi, dan arah konstruksinya. Dengan kata lain, membedah berarti mengetahui bagaimana suatu sistem (kekuasaan) bekerja, baik di wilayah makro maupun mikro.***