Kuliah bersama Mahardika Yudha: Mengenal Arsip

Saya ingat betul, hari itu tiba-tiba Otty Widasari menyerahkan sebuah buku kecil yang tebal berwarna coklat. Katanya, itu untuk saya yang kebetulan suka menulis dengan rapi. Tentu saya girang bukan main, meski jujur kerapian menulis saya adalah hal yang sungguh bisa diperdebatkan. Jadilah buku hadiah Otty menjadi media pencatat yang secara rutin merekam pula aktivitas diskusi terkait proyek AKUMASSA-Diorama.

Aktivitas merekam dan mencatat bisa pula dikatakan sebagai aktivitas mengarsip. Dua-duanya sama-sama menghasilkan informasi yang diwadahi oleh sebuah media. Ini mengingatkan pada apa yang dibincangkan di kuliah Arsip bersama Mahardika Yudha – seniman, kurator, pembuat filem, peneliti serta salah satu pendiri Forum Lenteng yang sejak tahun 2013 menjadi Direktur OK Video.[1] Pria yang kerap disapa Diki ini pada Jumat, 21 Oktober 2016 pukul 19.00 menjabarkan arsip tak hanya dalam definisi, namun juga sebagai sebuah isu. Dokumen, rekam sejarah, peninggalan, artefak, footage, database, rujukan  hingga politis, adalah kata-kata kunci yang dilontarkan waktu itu oleh peserta diskusi untuk merujuk pada definisi arsip.

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka arsip didefinisikan sebagai dokumen dalam bentuk tertulis, lisan, bergambar yang disimpan oleh media dalam rangka referensi dan dikeluarkan oleh institusi pemerintah sebagai dokumen dari waktu yang telah lampau. Sesuatu dapat menjadi arsip ketika telah terjadi atau telah menjadi sejarah dan mampu memberikan informasi tertentu melalui keberadaannya dalam suatu media. Pada prosenya, sebuah arsip yang tersimpan dalam suatu media membutuhkan keberadaan pengarsip dan pengakses arsip. Namun sirkulasi yang terjadi pada pengarsip dan pengakses arsip sangat dikontrol oleh sebuah kekuasaan, salah satunya ialah kekuasaan institusi yang mengeluarkan arsip tersebut. Seringkali kondisi demikian justru malah membuat arsip menjadi pasif, yaitu tidak digunakan secara aktif oleh publik akibat kesadaran yang minim untuk menggunakannya atau akibat hambatan institusional.

Namun kini, kekuasaan atas proses pengarsipan dan pengaksesan arsip tidak lagi seutuhnya hanya menjadi milik institusi. Kehadiran perkembangan teknologi pada media menjadi titik tolak bagi terbukanya akses terhadap arsip dan mendorong arsip menjadi aktif atau dapat dipergunakan kapan pun sesuai dengan kebutuhan. Di era digital yang kini berlangsung, arsip aktif dapat kita temukan pada situs-situs yang menyediakan open data. Tentunya, ini menjadi jawaban atas hambatan dari instansi yang menyebabkan kesulitan untuk mengakses data.

Berita-berita beberapa waktu lalu mengenai pembocoran data-data resmi pemerintah oleh situs semacam Wikileaks dan Panama Paper pun semakin menunjukkan bahwa data formal bukan lagi cuma milik negara. Pada titik tertentu, data-data ini bisa hadir di tengah publik meski tanpa otoritas dari institusi resmi negara yang berwewenang atas arsip tersebut. Kekuasaan atas informasi barangkali kini terletak pada kemajuan media itu sendiri, sehingga yang mampu menggunakan media tersebutlah yang memegang kuasa. Di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga memicu terjadinya tsunami informasi yang perlu disikapi dengan keselektifan memilih dan memilah data. Sama halnya dengan siapapun bisa menjadi pengakses arsip, kini siapapun bisa menjadi pengarsip.

Media berlaku tak hanya sebagai wadah informasi saja. Sebagai variabel yang terus berkembang, ia pun memiliki potensi untuk memicu kesadaran masyarakat akan kehadirannya, dan oleh sebab itu masyarakat pun mampu memiliki pemahaman akan potensi penggunaan media yang memungkinkan produksi informasi hingga menjadi arsip tersendiri.[2] Produksi konten kini menjadi hal yang lumrah. Tanpa disadari pun ketika menuliskan status di media sosial semacam facebook, kita sebetulnya telah mengarsipkan segelintir keseharian atau pikiran kita ke dalam cloud – media penyimpan yang hampir sulit diketahui masa kadaluwarsanya.

Sama halnya dengan media penyimpannya yang bisa memberikan kekuasaan pada pihak-pihak tertentu, arsip pun selalu memiliki aspek politis yang dapat memberikan legitimasi tertentu. Muatan informasi dalam arsip merupakan faktor utama yang memungkinkan aspek politis tersebut hadir sekaligus menjadikan arsip sangat penting. Informasi tersebut tak hanya merupakan kapital dengan nilai yang tak terbatas, namun ia juga merupakan aset yang memiliki mobilitas tinggi. Kemudahan replikasi atas apa yang ingin disampaikan lewat informasi pun menjadi hal yang sangat mungkin. Maka tak jarang, informasi dalam arsip juga memiliki kandungan kepentingan tertentu.

Negara dan swasta dalam otoritasnya menuliskan narasi sejarah yang diarsipkan biasanya memiliki rujukan pada kepentingan-kepentingan institusional. Tak jarang kepentingan tersebut pun menjadi bingkaian atas narasi sejarah tetapi sekaligus pula menjadi batasan. Sebaliknya, kepentingan-kepentingan semacam itu tidak melulu hadir pada warga sehingga eksplorasi tak terbatas atas penemuan-penemuan baru pun lebih dimungkinkan. Terutama ketika perkembangan teknologi media seperti internet pun didayagunakan, maka sejarah pun tak mungkin hanya berorientasi pada negara saja. Warga tak dapat dielakkan lagi mampu memiliki otoritasnya pula untuk turut menarasikan sejarah ketika ia pun memiliki akses terhadap arsip dan bahkan mampu membuat arsip. Pada titik tertentu, buku harian dan perkakas rumahan pun pada akhirnya memiliki kemungkinan menjadi arsip ketika mereka dibingkai sebagai arsip. Sejarah kemudian tak hanya diabstraksikan sebagai sebatas peristiwa namun mencakup pula memori kolektif dalam masyarakat.

Sama halnya dengan buku harian dan bahkan buku catatan dari Otty yang saya pakai sebagai rujukan untuk menulis esai ini, diorama pun merupakan arsip yang terdiri atas teks-teks dan terwujud dalam bentuk 3D. Ia merupakan arsip yang juga disusun dari arsip-arsip lainnya yang telah mengalami proses seleksi. Sebagai sebuah representasi sejarah formal, maka seleksinya dilakukan oleh pemerintah dan membawa serta otoritas pemerintah di dalamnya. Namun tak berarti bahwa diorama adalah arsip pasif yang beku dan tidak dapat dibaca kembali. Sebab pada akhirnya, otoritas media memberikan jalan tengah untuk mengoper otoritas narasi dari tangan negara menuju tangan warga. Tak ubahnya pula dengan otoritas pembicara kuliah Arsip yang kini telah hilang dan sepenuhnya digantikan oleh otoritas saya yang untuk menarasikan kembali persoalan arsip sesuai dengan seleksi atas apa yang tercatat dalam buku catatan yang saya pergunakan kala itu.***


Catatan Kaki

[1] http://forumlenteng.org/en/?team=mahardika-yudha-en diakses pada Kamis, 16 Februari 2017 pukul 09.55.

[2] https://manshurzikri.wordpress.com/tag/ones-who-are-being-controlled/ diakses pada Kamis, 16 Februari 2017 pukul 10:42.