Mengalami Sejarah: Menubuh atau Berjarak?

Diorama Monumen Nasional merupakan satu dari sekian konstelasi diorama yang dimiliki oleh Negara Indonesia. Selain Diorama Monas, mungkin Diorama Lubang Buaya versi 1:1 juga dapat dibayangkan untuk memahami upaya negara dalam menetapkan suatu situs sebagai artefak sejarah. Dua diorama ini pernah saya kunjungi sebelumnya, Diorama Lubang Buaya saat kunjungan edukasi Sekolah Dasar sekitar tahun 2006, dan Diorama Monas saat mengerjakan proyek Diorama bersama tim Akumassa-diorama pada tahun 2016.

Keberjarakan waktu pada dua pengalaman ini memiliki impresi yang jelas berbeda. Pada saat mengunjungi Diorama Lubang Buaya bersama teman-teman di bangku sekolah dasar, saya merasakan ngeri dan bingung. Sebelum saya merasa akrab dengan tokoh-tokoh yang terlibat pada narasi negara itu, saya sudah keburu ditanamkan pemahaman bahwa terdapat sekolompok orang yang tidak segan-segan melakukan pembantaian pada Jendral-Jendral Tertinggi Negara untuk kepentingan mereka sendiri. Kemudian, bagaimana sekelompok ini melakukan penyiksaan luar biasa, melibatkan aksi-aksi brutal dan tidak manusiawi disusul penjejalan tujuh tubuh pada satu lubang, di mana di diorama ini, masih ada bekas darah di sekitar lubangnya. Tidak banyak yang bisa saya ingat, tapi impresi itu membangun imajinasi saya sehingga ketika waktu SMP di tahun 2008 saya menonton filem Pengkhianatan G30S/PKI, saya menangis selama satu jam bahkan hingga filem telah selesai di putar. Saya mengalami sejarah sebagai pengalaman yang berjarak, hanya lewat bangunan diorama dan narasi audiovisual lewat film. Tanpa benar-benar tahu dan memahami apa yang terjadi tapi otak saya dijejalkan impresi mengerikan bahwa negara kita pernah diancam oleh sekolompok orang berkepentingan yang tidak takut untuk melakukan pembataian besar-besaran pada tokoh-tokoh negara. Saya sekali pun tidak menyangsikan keaslian dari filem ini, kata fiksi jauh dari benak saya saat menyaksikan filem ini.

Sepuluh tahun kemudian untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki ke terowongan Monumen Nasional menuju Museum Nasional, sebelumnya pernah sekali-dua kali mengunjungi bagian luar Monumen Nasional bersama teman-teman di kala SMA. Terowongan ini membawa saya pada suguhan 51 Diorama, masing-masing seukuran 1x2m di sebuah pelataran indoor nyaris muat 500 orang, dengan air conditioner seadanya dan beberapa vending machine di sudut-sudut ruangan. Di sini, terdapat diorama berbatas kaca yang menampilkan reka aksi dan kejadian sejarah Indonesia sejak jaman purbakala, masa-masa penjajahan, masa-masa persiapan hingga Proklamasi Kemerdekaan, dan upaya-upaya pasca kemerdekaan untuk menetapkan bentuk kehidupan bernegara Indonesia, di akhiri tahun 1995 dengan diorama peresmian Pesawat Terbang buatan BJ Habibie yang dinamakan Gatot Kaca. Pengalaman berkunjungan ke Diorama Monas yang tidak sekali-dua kali itu dalam jangka waktu selama dua bulan, sering dibarengi dengan kunjungan sekolah-sekolah di mana ada puluhan siswa sekolah dasar bersama para guru pendamping yang menuturkan sejarah khas teks buku dengan menjadikan diorama sebagai alat peraga. Saya sendiri mencoba untuk membaca setiap narasi yang tertulis sebagai pengantar di bagian bawah diorama sebagai jembatan dalam memahami suguhan visual yang ditawarkan.

Apa-apa yang disuguhkan di diorama kemudian dimaknai oleh konteks jaman sekarang: ada pelibatan “aku”, bersifat tidak berjarak (membicarakan kejadian masa lampau tdan menarik langsung relevansi dengan jaman sekarang –namun bentuknya bukan dengan sistem politik Indonesia kemudian seperti apa, atau kenapa harga-harga di pasar naik). Saya sendiri pun sangat awam dengan harga-harga komoditas yang dijual di pasar, dan entah bagaimana hubungannya antara harga komoditas di pasar dengan diorama. Pengalaman sejarah yang saya tahu dan alami adalah bagaimana teman-teman beretnis China di kampus saya membagikan keluh-kesah mereka di group kelas kuliah lewat instant messaging dalam menanggapi kejadian 4 November, 2016: bagaimana orang tua mereka melarang mereka berkegiatan, dan bagaimana ketakutan-ketakutan terhadap potensi pengulangan tahun ’98 dapat terjadi. Mereka mengeluhkan status minoritas mereka dan teman-teman beragaman Islam berupaya untuk memberi penenangan dan penerimaan terhadap keadaan mereka. Ini adalah percakapan paling politis dan melibatkan konteks sejarah yang pernah saya alami selama beberapa tahun terakhir. Narasi-narasi sejarah dibahas di sini dan dijadikan relevan oleh teman-teman saya. Impresi dari keadaan mereka begitu nyata dan begitu dekat, membuat saya tertuntut untuk terlibat di dalamnya sebagai spektator terhadap percakapan mereka.

Impresi yang terbangun dalam akumulasi melihat dan memahami diorama, adalah kegagapan anak seumuran 20 tahun tinggal dan berkuliah di pinggiran Ibukota Jakarta, dengan bagasi pengetahuan berupa residu hasil pembelajaran sejarah dari bangku sekolah yang tidak seberapa. Banyak tokoh yang saya tidak kenali, banyak tempat yang tidak saya ketahui, banyak duduk perkara yang tidak saya pahami, dan apa-apa yang tersuguh baik visual maupun teks tidak menjangkau banyak ingatan di belakang kepala saya. Hal ini menjadi jelas ketika pada suatu sore saya berdiskusi dengan Bang Akbar di Forum Lenteng, membicarakan tentang bentuk-bentuk sejarah: bahwa sejarah adalah sesuatu yang terbuka, bahkan ketika seseorang membaca sejarah, dia adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Sejarah pada hakikatnya memiliki dua pendekatan, yaitu pendekatan objektif, di mana sejarah selalu berupaya untuk mencari apa yang benar-benar terjadi dengan acuan dokumen dan arsip sebagai alat bukti untuk menetapkan rekam jejak perjalanan apa-apa yang telah terjadi di masa lampau. Fungsi ini acap kali dijalankan oleh negara dengan atribut kenegaraan yang mampu menetapkan apa-apa yang benar dan apa-apa yang salah untuk dirujuk masyarakatnya. Hal ini mengasingkan masyarakat sebagai elemen yang benar-benar mengalami sejarah itu sendiri, tidak terlingkup pada narasi objektif tersebut. Penetapan sejarah objektif menghasilkan pengetahuan yang direproduksi secara terus-menerus menjadi sebuah tataran mapan di benak masyarakat.

Hal ini menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang tidak relevan, menurut beliau, yang juga saya alami dan amini ketika berkaca pada pengalaman melihat diorama di Monas: berjarak dan tidak relevan. Tidak banyak pengalaman menubuh yang saya alami sekarang, yang dapat menjembatani saya dalam memahami diorama yang saya lihat. Sejarah adalah sesuatu yang perlu dialami (present) bukan ditayangkan kembali (represent). Upaya-upaya untuk menayangkan kembali sejarah lewat reka ulang dalam bentuk apapun masih menyisakan jarak dan menuntut bagasi pengetahuan untuk mampu memahami sejarah tersebut, belum lagi mengenai sejarah mana yang kita bicarakan? Pada akhirnya sejarah hanyalah fiksi, upaya-upaya untuk menetapkan apa-apa yang dianggap perlu untuk ditetapkan.

Terlepas dari keadaan di atas, warisan artefak sejarah ini pun ternyata juga masih disambangi dan dikunjungi oleh anak-anak muda lain termasuk saya. Selain anak-anak sekolah yang didampingi guru, sepertinya kunjungan wajib; juga anak-anak bersama keluarga baik orang tua dan saudara; juga ada anak-anak muda yang datang bersama teman-temannya, pun juga seperti saya hadir sendiri dengan kepentingan masing-masing. Anak muda sesungguhnya tidak segan untuk datang ke Monas. Ketika saya datang ke Monas, selalu ada anak muda yang masih ingin datang ke Diorama, masih ingin terlibat dalam peristiwa kesejarahan. Namun bentuknya seperti apa, itu yang perlu dibahas lebih lanjut. Anak muda ini, termasuk saya, melongok melihat-lihat diorama satu persatu. Dalam konteks membaca dan mengamati, kebanyakan mereka datang berkelompok dan merasa perlu menyuarakan apa-apa yang mereka tahu atau setidaknya ada potensi interaksi, seperti menyampaikan selentingan berupa “Ini lu, bego, sama bapak lu lagi mecahin batu”, berkomentar dengan bacaan mereka terhadap apa yang mereka lihat. Atau berhenti mengamati dan memutuskan untuk mengambilkan swafoto berkelompok atau meminta teman mengambilkan foto, menandakan keakuan diri terhadap objek sejarah yang tersaji. Pengambilan foto ini pun sesekali dibarengin dengan penggunaan flash yang menjadikan layar diorama terpantul cahaya sehingga objek dibalik kaca tidak sepenuhnya hadir di potret yang diambil. Foto ini kemudian entah berakhir hanya di handphone atau dilanjutkan ke medium lain tidak ada yang tahu. Namun, aksi ini saya maknai sebagai performativitas anak muda dalam terlibat di peristiwa kesejarahan.

Dalam menyikapi bahwa pada akhirnya sejarah adalah fiksi, maka munculah kehadiran sejarah publik sebagai pendekatan lain dalam melihat sejarah, berangkat dari sejarah adalah milik masyarakat yang dialami secara menubuh. Tidak menggunakan pendekatansejarah objektif dan mengejar presisi, namun menekankan pada impresi, pada pengetahuan kolektif masyarakat dalam memaknai apa yang mereka pahami dan alami. Upaya ini telah dilakukan oleh filem The Act of Killing oleh Joshua Oppenheimer yang diakui sebagai film dokumenter, padahal apa yang dia suguhkan sama sekali tidak mencantumkan dokumen sejarah. Namun, berbicara megenai impresi dan memori mengenai kekerasan, yang serta merta efektif untuk meninggalkan kesan dalam melihat balik kejadian di masa lampau.

Upaya yang saya lakukan dalam memaknai Diorama Monas ini dengan semangat sejarah publik ini kemudian adalah mengalami sejarah tersebut sebagai pengalaman performatif yang menubuh. Mungkin bagi anak muda jaman sekarang diorama sudah tidak lagi relevan sebagai acuan untuk membicarakan apa-apa yang penting bagi mereka. Tidak juga sebagai acuan untuk melakukan kilas balik terhadap rekam jejak perjalanan Indonesia sebagai Negara. Mungkin benar dugaan saya, sejarah tidak dapat di-represent atau dihadirkan kembali sebagaimana kejadian itu terjadi. Upaya secanggih apapun untuk melakukan reka ulang tidak akan ada apa-apanya dibanding mengalami sejarah itu sendiri atau present, yang menuntut kebertubuhan spektator. Relevansi Diorama bagi anak muda kemudian adalah mereka bebas untuk menanggapinya, dengan obrolan ringan terkait kehidupan mereka, dengan teknologi kamera handphone yang mereka miliki, atau dengan jelas-jelas mengabaikan diorama dan memilih untuk tidur-tiduran atau men-charge handphone. Apakah kemudian mereka abai terhadap sejarah?

Saya bersama teman-teman berusaha untuk melihat Diorama lewat bingkaian kami sendiri dengan teknologi kamera, memainkan perangkatzoom dan membentuk bingkaianuntuk direkam, kemudian memahami tangkapan tersebut, dihubungkan dengan relevansi baik rekam sejarah, juga dengan pengalaman dan pengetahuan keseharian kami. Saya menemukan bentuk-bentuk budaya masyarakat: kehadiran rokok dan teh sebagai komoditas khas Indonesia yang terus bertransformasi lintas waktu (suguhan rapat, bertamu, bersantai, hingga teman berdikusi), nuansa kolektivisme (kerjabersama mulai dari membangun candi, berperang, berkumpul, hingga berbincang-bincang di teras rumah; mungkin sekarang bentuk bincang-bincang itu sudah kami lakukan lewat dunia maya), sikap tubuh khas masyarakat tropis yang tidak tegap; sering bersandar; acap kali duduk hingga berjongkok, juga kemudian kecenderungan untuk sangat ekspresif dalam kejadian tertentu (gemar menunjuk atau sering ditunjuk, suka mengangkat tangan, gemar berjinjit dan mengepalkan tangan, mengintip karena selalu ingin tahu), kesadaran individu dalam kegiatan berkelompok (duduk berhadapan, duduk melingkar, duduk bersila atau bersimpuh, berbaris tidak rapih namun tertata, berbisik dengan satu sama lain, bergunjing), juga kehadiran alat komunikasi massa mulai dari bedug, pentungan, lonceng, mikrofon, toa, hingga layar super besar yang terhubung langsung dengan kamera untuk menyiarkan kejadian rapat secara langsung bagi peserta rapat, juga kehadiran ruang-ruang terbuka seperti pendopo, balai, teras rumah yang sering jadi tempat berkumpul. Temuan-temuan hasil pembesaran dengan kamera sebagai aksi performatif ini, bagi saya menjadi jauh lebih relevan untuk dimaknai dalam melihat reka ulang sejarah Indonesia karena bentuk-bentuk itu masih ada sekarang, masih dapat dirasakan dan dialami. Perkembangan dari apa yang saya lihat dan bagaimana bentuk-bentuk ini bertransformasi melintasi ruang dan waktu hingga saat ini, menjadikan saya memiliki jembatan penghubung untuk menjadikan sejarah tersebut relevan, karena saya bisa melihat diri saya. Temuan ini merupakan hasil aksi performatif kami, yang berusaha tidak menyia-nyiakan dan malah melihat hal-hal kecil, menolak sepenuhnya menerima hal-hal besar yang berupaya ditampilkan.

Kemudian, diskusi-diskusi yang saya alami bersama teman-teman tim AKUMASSA-Diorama juga merupakan aksi performatif untuk secara konsisten memaknai temuan-temuan kami dengan kamera. Dengan latar belakang yang beragam (Komunikasi, Admistrasi, Penyiaran, Kriminologi, Seni Rupa, Etnografi Musik, Hubungan Internasional), jadi menarik bagi kami untuk membenturkan pemikiran interdisipliner. Terlepas dari segala yang kami hasilkan, saya pribadi memahami bahwa pada hakikatnya negara memiliki diskursus yang diturunkan lewat media, pada hal ini adalah Diorama. Pada diorama ini terdapat dua narasi: narasi besar dan narasi kecil. Narasi besar identik dengan pendekatan sentralistik, mengacu pada konsensus dan sejarah objektif sedang narasi kecil memiliki perspektif plural beragam dan sejarah publik.

Sejarah adalah fiksi!dengan beragam versi kebenaran penuh kepentingan. Tidak akan menjadi apa-apa jika hanya mengendap sebagai informasi di kepala kita, tanpa jembatan penghubung antara pengetahuan itu dengan bagaimana kemudian sejarah itu dapat dialami baik lewat impresi maupun secara fisik. Saya mengalami diorama dengan pendekatan sejarah publik: dengan menyeleksi bacaan saya dan percaya dengan kapasitas saya untuk memaknai bacaan saya. Saya tidak berfokus pada narasi-narasi besar yang jujur saja, saya pun gagap untuk secara fasih mengenali muka-muka, lokasi dan kejadian yang terpampang di diorama. Teks bacaan yang semestinya menjembatani pun tidak banyak membantu saya untuk dapat menyikapi diorama ini. Tapi setelah saya melakukan seleksi lewat pembesaran, saya mengalami pengalaman berdiorama itu. Bagi saya diorama pada kasus ini adalah upaya penyuguhan visual untuk merekaulang sejarah bagi spektator pada saat itu dengan segala kepentingan; yang kemudian pada akhirnya menunggu partisipasi spektator yang kemudian terus hadir di depan suguhan visual itu untuk menghadirkan impresi-impresi yang relevan pada jamannya dengan melakukan aksi performatif untuk mengalami sejarah itu sendiri. Sejarah adalah fiksi, dan bagi saya tidak pernah ada cara yang benar maupun salah untuk melakukan bacaan atau mengalaminya, selain dengan membawanya ke tataran kebertubuhan, alih-alih sebagai sesuatu yang berjarak.***