Persepsi Dimensi Bolak Balik

Sejak awal, saya merasa sangat terbatasi saat melihat diorama. Bagaimana tidak, melalui hadirnya ‘batas’ besi, kaca dan pencahayaan, saya tidak benar-benar merdeka untuk memahami narasi saat itu dan saya merasa kemerdekaan itu justru hanya ada di dalam diorama. Keresahan itu mulai saya rasakan ketika lingkup lihat maupun gerak saya terbatasi oleh ruang. Bagaimanapun, kita selalu dituntun untuk melihat tonggak-tonggak sejarah secara deskriptif dengan tawaran satu sudut pandang saja. Interaksi antara clay dengan clay beserta lanskap serta penyuasanaan melalui efek cahaya, justru mempersempit penglihatan saya. Realitas bahwa diorama merupakan miniatur tiga dimensi yang semestinya bisa saya lihat dari sisi manapun memenjarakan persepsi saya seutuhnya. Teruntuk itu, kini saya menggugat visual yang ditawarkan diorama untuk saya lihat. Deklarasi ini bukan main-main, maka dari itu dengan kamera, saya tidak akan pernah melewatkan sejengkal pun amatan-amatan melalui kamera saya.

Rasanya gugatan saya ini bukan gugatan yang kesepian, karena bukan saya saja yang mengugat, tapi banyak pengunjung lainnya yang mengugat dan mengkonfrontasi langsung di hadapan saya. Misalnya, seorang bapak sedang menjelaskan kepada kedua anaknya tentang sejarah dari masing-masing diorama. Untuk memperjelas serta mempertegas apa yang dimaksudkan oleh si bapak, ia menunjuk obyek-obyek itu bukan dengan telunjuknya melainkan dengan payung yang ia bawa. Dengan payung besarnya yang berwarna kuning, ia menunjuk ke beberapa titik yang ia maksud sebagai bentuk perlawanan atas hadirnya kaca yang membatasinya untuk melihat lebih jauh ke dalam. Dengan payungnya, ia mencoba menembus batasan-batasan itu disertai dengan ketokan kaca yang mengusik saya.

Manusia adalah pencipta. Saya rasa itu kalimat yang tepat, jika merujuk dengan mudahnya kita memproduksi gambar maupun mereproduksi gambar, pun secara digital. Diorama di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, yang berjumlah 51 buah tersebut bisa kita produksi kembali ke dalam bentuk gambar digital dan dapat dilakukan dalam hitungan tidak lebih dari satu jam. Hadirnya teknik selfie baik dipegang langsung dengan tangan maupun dengan tongsis (tongkat narsis), akan memberikan pengalaman berbeda daripada meminta orang lain untuk memfoto diri kita di depan karya diorama. Secara sadar, orang yang menekan tombol foto dan memegang tongsis tersebut memasukan diri mereka nantinya dalam bingkaian berlatar diorama, dan secara sadar pula melakukan seleksi sudut pandang pada bidikan yang diinginkan. Lain lagi perilaku pemegang kamera video, beberapa pengunjung di waktu yang berbeda beraksi menjadi tour guide di depan kamera dan membelakangi diorama memaparkan penjelasan-penjelasan deskriptif yang singkat secara lisan. Maka aksi-aksi tersebut, bahkan yang tidak menghadirkan diri mereka secara langsung bersama diorama dan hanya berfokus pada pendokumentasian foto maupun video yang ‘ditodongkan’ kepada kaca diorama, justru memberikan kesempatan bagi mereka untuk menuntut pembebasan dari visual yang selama ini ditawarkan.

Lukisan Sudjojono dan Lanskap Indonesia

Istilah mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattell yang diterbitkan dalam bentuk portofolio di Amsterdam tahun 1930. Namun demikian, istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: mooi Indie (Hindia Belanda yang indah). Materi-materi lukisan mooi Indie cukup mudah dikenali, yaitu lanskap pegunungan, sawah, pohon, bunga- bunga, telaga, atau yang lainnya. Selain itu, mooi Indie juga menghadirkan kecantikan dan keeksotisan perempuan-perempuan pribumi dan juga laki-laki pribumi, yang dihadirkan sebagai orang- orang desa.

Lukisan mooi Indie menjadi perwujudan konsepsi Indonesia atau Hindia Belanda saat itu oleh pelukis-pelukis Barat dengan memakai keeksotisan lanskap alam yang indah dan orang-orang Pribumi sebagai latar obyek dekoratif lukisan. Melalui karya-karya lukisannya, Sudjojono melakukan aksi tandingan dengan menampilkan obyek lukisan orang-orang Pribumi di depan latar alam Indonesia. Dengan menonjolkan presensi diri orang-orang Pribumi dan alam tropis sebagai latarnya, Sudjojono telah melakukan aksi kritis dalam mengkonsepsikan apa itu Indonesia dan memberikan terjemahan baru terhadap siapa orang Indonesia, dan keduanya tidak lain sebagai bentuk perlawanan.

Kini, kita berhak berkontemplasi siapa kita sebagai warga Indonesia dan apa itu Indonesia hari ini. Dengan segala penemuan serta inovasi, hari ini kita bisa dengan mudah mempresepsikan diri kita dan mendeskripsikannya melalui teks maupun visual dengan bebas. Segala belenggu semacam pembatasan perspektif tidak lagi relevan saat ini. Kita secara merdeka berhak untuk hadir dan turut menuliskan sejarah kita sendiri. Autobiografi dapat kita ciptakan dengan teknologi yang hadir saat ini, misalnya Wikipedia yang berlandaskan proyek kolaboratif, blog pribadi, Vlog (Video Blog) di Youtube, Instagram, dan Facebook yang bahkan selalu menawarkan kita untuk berbagi status maupun foto-foto kita terdahulu yang pernah kita unggah. Demikian pula dengan hadirnya tongsis (tongkat narsis), alat ini merupakan bentuk inovasi sederhana yang memudahkan kita untuk memfoto diri kita (selfie) oleh kita sendiri sebagai subyek yang aktif. Industri ponsel kini sedang bersaing menciptakan berbagai inovasi yang memudahkan kita untuk melakukan teknik selfie tersebut dengan menghadirkan kamera depan dan belakang. Jika dulu kita berada di belakang kamera (posisi memfoto), kini kamera justru berada di depan kita dengan menghadirkan diri kita.

Berbeda dengan beberapa karya Sudjojono yang melakukan perlawanan melalui presensi diri orang-orang Pribumi sebagai obyek lukisan, aksi selfie menjadikan diri kita sebagai obyek sekaligus subyek foto yang aktif. Hadirnya diorama-diorama di Monas, bukan lagi dihadirkan sebagai karya yang hanya bisa dilihat, tapi juga menjadi sekedar pengalaman obyek latar dalam aksi autobiografi. Kenampilan diri dari naluri narsistik manusia yang berlatarkan diorama secara sadar dihadirkan oleh si pembuat dengan cara selfie untuk memberikan ‘tanda diri’ sekaligus pengalaman ‘tubuh dan lokasi’ dari karya yang sudah dibuat. Dengan tindakan itu, kartu- kartu inventaris yang menandakan kepemilikan pengelola (pemerintah) justru kurang relevan lagi, karena dengan kamera, diorama sudah ‘ditandai’ oleh kesadaran para pengunjung. Sorotan- sorotan kamera bisa dengan mudah mendedah tiap diorama. Aksi ini bukan hanya sekedar eksploitasi, tapi juga bentuk perlawanan dan bentuk gugatan atas hadirnya sifat diorama yang seharusnya tiga dimensi —namun terasa hanya hadir dalam dua dimensi saja— dengan seleksi perspektif yang sebelumnya telah ditentukan.

Kita hanya mendapatkan satu sudut pandang saja yang artinya hanya ada satu pilihan di mana kaca meminta kita melihat apa yang ia tampilkan melalui sudut-sudut yang terbatas. Hal ini mengingatkan saya pada moda televisi, interaksi hanya berjalan satu arah antara stasiun televisi dengan penonton sehingga penonton tidak memiliki kuasa untuk memilih dan menentukan apa yang mereka lihat. Belum lagi kepentingan komersial, politik dan lain sebagainya yang diejawantahkan dalam program-programnya. Keduanya, baik televisi maupun diorama, tidak saja membatasi diri kita dengan kaca, tetapi juga secara politis memonopoli visual kita dengan menempatkan diri kita sebagai penonton yang pasif. Kita tidak otonom dalam memahami narasi ataupun sejarah, walaupun disuguhi dengan berbagai kanal televisi maupun berbagai pilihan diorama lainnya.

Dimensi Bolak Balik

Watchdog atau anjing penjaga dapat didefinisikan sebagai anjing yang menjaga properti dan dapat diartikan pula sebagai seseorang atau kelompok yang bertindak sebagai pelindung atau penjaga terhadap ketidakefisienan, praktik ilegal, dan lain sebagainya. Namun, istilah ini juga dipakai media dalam menjalankan fungsinya dengan turut mengawasi serta mengidentifikasi masalah sosial saat ini dalam proses pembuatan kebijakan pemerintah, aktivitas illegal, imoralitas, isu proteksi konsumen, dan degradasi lingkungan layaknya anjing penjaga yang memperingatkan orang lain ketika ada masalah yang terdeteksi. Kini, televisi melalui tawaran program-programnya telah menghadirkan daya kritis warga terhadap televisi itu sendiri. Walaupun sebenarnya bermunculan program-program televisi yang mengatasnamakan citizen journalism, namun pada akhirnya, karya-karya warga baik teks maupun audio visual juga mengalami proses seleksi secara redaksional. Padahal citizen journalism berpotensi memunculkan daya kritis warga dan menawarkan cara pandang berbeda (dari media arus utama), sekaligus warga diberi peran dalam menjalankan fungsi watchdog yang langsung berelasi dengan lingkungan sekitarnya. Realitas televisi sekarang, nyatanya, sudah tidak lagi memiliki keberpihakan pada warga dengan adanya faktor kapital dan kontestasi politik di dalamnya, maka dari itu, jika tidak senang silahkan mengganti channel atau matikan televisi. Berbeda dengan internet, internet justru memunculkan sifat interaktif yang memungkinkan semua pihak saling berhubungan dan berinteraksi setiap saat (Hadi, 2005:25). Bahkan, warga diberikan kebebasan dalam mengelola berita baik sebagai produsen berita maupun konsumen berita dalam media sosial. Media sosial telah menjadi ruang interaksi dalam realitas virtual. Realitas virtual memungkinkan apa yang dikatakan Paul Virilio dalam The Aesthetics of Disappearance, yaitu “…menjadikan sesuatu yang supernatural, imajiner, bahkan yang tidak masuk akal menjadi tampak sebagai realitas” (dalam Hadi, 2005: 19). Sama halnya dengan diorama, pada konteks hari ini, medium diorama sebagai kanal negara dalam menuturkan sejarah tidak lagi menjadi obyek tunggal untuk kita pahami sebagai suatu sejarah yang presisi dari realitasnya. Hari ini, kita pun dapat memahami medium diorama secara cair baik sebagai bagian dari realitas sejarah yang terjadi maupun sejarah yang perlu kita kritisi melalui keterbatasan perspektif dari diorama yang bisa kita lihat.

Melalui keterbatasan tersebut dalam proyek kali ini, keterbatasan itu justru memberikan kami kesempatan dalam membuat narasi yang baru dengan cara melakukan pembesaran. Dengan kamera dan lensa tele, saya bermain-main melalui sudut sorotan saya. Miniatur-miniatur yang sebenarnya letaknya cukup berjauhan saya ubah sudut sorotannya dengan kamera agar terlihat dekat dan interaktif. Tidak sedikit amatan yang biasanya luput dari mata kita ditemukan melalui mata kamera, walaupun usaha yang diperlukan cukup besar seperti dengan melintasi batas besi dan memiringkan kepala saya untuk mendapatkan sudut yang saya inginkan. Ada satu adegan yang saya rasa menarik untuk dibahas secara visual, yaitu hadirnya tiga pasang kaki yang tergeletak di sudut ruang rapat besar kenegaraan dalam salah satu diorama. Terlepas dari unsur kejahilan atau kelalaian, konsekuensi artistik pada tata letak merupakan suatu narasi yang perlu kita baca dalam satu kesatuan karya diorama. Saya tergelitik untuk membingkai tiga pasang kaki yang tergeletak di pojokan itu dengan fotografi. Alih-alih hanya menjadi perdebatan dalam ingatan saya saja, bingkaian tersebut mungkin kelak mampu melahirkan narasi kecil sebagai bagian dari sejarah.

Kamera memberikan saya kebebasan dan peluang berperilaku otonom dalam menentukan visual yang saya inginkan. Saya pikir ini bukan saja saya berhasil menelanjangi diorama-diorama itu, tapi itu juga berhasil mengidentifikasi gestur-gestur yang biasa kita lakoni. Dengan kamera, kita justru memiliki banyak akses untuk memandang jauh serta melihat diorama secara detail bahkan pada sudut-sudut diorama yang luput dari amatan mata sekalipun. Secara sadar, saya pun diberikan banyak akses dalam mengeksplorasi serta dapat dengan mudah membingkai gambar melalui narasi yang saya inginkan.

Kehadiran teknologi teropong seperti kamera, memberikan tawaran pemikiran baru bagi kita untuk dapat terlibat mengawasi diorama itu sendiri. Walaupun tawaran hanya dipaksakan secara dua dimensi dan satu sudut pandang saja, kehadiran teknologi justru saya gunakan sebagai alat terampil untuk melawan keterbatasan. Selain itu, kamera pun dapat menjadi bagian dari diri kita untuk mengakses lebih jauh secara visual dan melihat narasi-narasi yang tidak terjangkau oleh mata. Dalam melihat potensi kamera sebagai peluang kuasa, kita pun sebenarnya berada dalam bayang-bayang pengawasan itu sendiri. Bagaimana tidak, ketika kita sedang asik ‘menelanjangi’ diorama, kehadiran kita justru sebagai obyek pengawasan melalui kamera CCTV yang ditaruh di setiap sudut Monas dan dikontrol dari ruangan pengawas. Gerak gerik dan perilaku kita diawasi (dan dibatasi), tanpa ada privasi dan transparansi. Kamera CCTV tidak hanya menjadi alat untuk mengawasi kita, tetapi juga sebagai referensi dalam menentukan kebijakan yang diterapkan pada para pengunjung Monumen Nasional. Bisa jadi memberikan ‘batas’ baru kelak, seperti penambahan penjaga maupun kebijakan pemakaian kamera.

Perihal saling awas-mengawasi, juga perihal kebebasan tanpa batas yang dijanjikan internet, merupakan perihal baru yang memiliki hubungan bolak-balik yang sama, dalam dimensi yang lebih tak terbatas lagi. Internet sebenarnya memberikan kita kesempatan untuk memecahkan kebuntuan-kebuntuan tersebut sekaligus kemungkinan untuk terjebak dalam rumah kaca yang penuh pengawasan, yang bahkan sulit dideteksi oleh siapa.

Melalui website dan aplikasi Google Street View, pengalaman tiga dimensi dapat kita nikmati dan dapat kita ciptakan sendiri. Tidak memerlukan alat-alat canggih yang dimiliki oleh Google, namun ponsel Android atau kamera DSLR cukup untuk membuat foto street view melalui bidikan-bidikan foto sekeliling kita. Hasil bidikan foto-foto tersebut digabung menggunakan fitur connect the dots yang tersedia di laman resmi Google. Foto-foto yang telah disatukan ke dalam blog atau situs akan menghasilkan foto panorama 360 derajat, dan akan ditampilkan pada Google Maps sehingga semua orang bisa melihatnya melalui google.com/maps/views. Kita bisa mengakses lokasi yang sudah ditemukan atau belum. Sebaliknya, kita bisa juga diakses oleh entah siapa.

Pengalaman melihat secara tiga dimensi yang sebenarnya ditawarkan diorama (namun juga tidak), dapat kita ciptakan sendiri sekaligus kita pun bisa dengan mudah mengunggah dan berbagi kepada satu sama lain melalui kesadaran mengawasi secara visual dengan kritis. Apalagi, warga diberi kesempatan mendapatkan akses visual yang selama ini kita tuntut pada diorama.


Bibliografi

Hadi, Astar. (2005). Matinya Cyber Space: Kritik humanis Mark Slouka Terhadap Jagat Maya. Yogyakarta.